Sabtu, 15 Desember 2012

JP - 3 Manumayasa Rabi



JP – 3  Manumayasa Rabi.

            Assalamu'alaikum wrm wbr, saya merasa sangat bersyukur kepada Allah swt karena telah diberikan ilmu pengetahuan yang insyaalah sangat bermanfaat apabila diikuti. Cerita ini adalah prediksi dari terjemah pewayangan yang sepengetahuan saya termasuk yang sangat akurat.
            Garis besarnya prediksi dari cerita wayang ini adalah ceritanya KH Nurhasan yang membawa agama yang terasa asing bagi masyarakat waktu itu. Sedangkan keadaan di Indonesia wakyu itu sedang rawan dengan pemberontakan. Apalagi setelah KH Nurhasan mendirikan keamiran diapun segera mendapat tuduhan mendirikan negara dalam negara. Isu ini diperbesar oleh pak Harto untuk mencari keuntungan memanfaatkan KH Nurhasan agar membantu dirinya yang ingin mengkudeta presiden Soekarno. Silahkan mempelajari cerita ini. Buktikan keakuratan pewayangan ini dengan perkembangan keadaan dunia yang sesungguhnya!

M A N U M A Y A S A     R A B I

1        Jejer Prabu Basu Murti nata ing Wiratha, anuju mios aning sitinggil binatha rata, ingkang mungging ngarsa ingkang rayi ,Raden Basu Kesthi, Patih Jati Kondho, para punggawa Arya Panurta, Arya Walakas, ginem Sri Nata daat kaweken ing driya, mireng pawartos bilih putra pulunan , nama Resi Manu Mayasa ing wukir Sapta Arga araraton**1,  kathah para nata ing manca praja ingkang sami puruhita, kawarti badhe andaga karaton Wiratha nedya madeg ratu piyambak. Raden Basu Kesthi langkung anduparakaken wartos makaten wau**2. Anangeng Sri Nata adreng angyektos aken, lajeng dawuh dateng Patih Jati Kondho, kadawuhan anduta punggawa salah satunggal dateng Prabu Karomba, nata yaksa ing Pringgondani**3. Supados animballana Resi Manu Mayasa, lajeng bibarran.


                        Kamus
Manu mayasa; Manu  =manungsa , seseorang
                           Yasa   = usaha ( membawa ajaran yang dianggap baru )
**ada orang yang dianggap mengajarkan islam yang dianggap ajaran baru,  dia kemudian terkenal karena ajaran agamanya tetap berkembang meski mendapat tantangan yang sangat besar dan dia juga dituduh mendirikan negara dalam negara, tokoh ini mirip ceritanya KH  Nurhasan  al-Ubaidah  (dalam bayangan saya ).

Basu murti ; Basu = sekarang mungkin jadi kata-kata  Bos
                        Murti = (bahasa arab ) amar taat / perintah yang harus dipatuhi
** ada seseorang yang mempunyai kedudukan tertinggi, yang setiap perintahnya harus dipatuhi, dalam bayangan saya yang dimaksud mungkin adalah panglima TNI.

Basu kesthi ; Basu = (sekarang) Bos
                        Kesthi = dari kata mesthi / pasti
**ada seseorang yang sudah dipastikan suatu saat nanti akan jadi pemimpin (menggantikan pak Karno ) dan orang itu juga pernah memiliki jabatan tinggi dikemiliteran, dalam bayangan saya mungkin yang dimaksud adalah pak Harto. 

Jati kondho ; Jati =  sesungguhnya (tugasnya)
                         Kondho = ngomong / berbicara/ memberikan keterangan
** ada seseorang yang mempunyai tugas sebagai tukang kondho / berbicara / memberikan penerangan / keterangan, tapi orang ini ada hubungannya dengan TNI , dalam bayangan saya yang dimaksud adalah kapuspen TNI.

Arya panurto ; Arya = orang yang mempunyai kedudukan tinggi dikemiliteran
                        Panurto = panurut / selalu tunduk patuh diperintah setiap saat.
** seseorang yang selalu siap diperintah setiap saat, mungkin berhubungan dengan surat perintah sebelas maret atau supersemar.

Arya walakas ; Arya =  tentara / prajurit
                         Wala = nawala / surat
                         Kas.   =  akas / cepat-cepat
** ada seseorang  ( anggota TNI ) yang mempunyai hubungan dalam hal surat menyurat, yang mempercepat keluarnya supersemar.

Sapta arga ; Sapta = tujuh
                         Arga = gunung
** tujuh gunung, maksudnya adalah tersimpan sangat rapat bagaikan ada didalam  gunung lapis yang ketujuh, mungkin sama artinya dengan kata-kata ada udang dibalik batu, ada sesuatu yang tersembunyi dan sangat rahasia. Disebut juga sebagai aktivitas bawah tanah.

Araraton ; aran ratu-ratuan
** mungkin yang dimaksud adalah jama'ah, memang islam yang berjama'ah itu ada amirnya, sehingga mirip ratu-ratuan tapi tidak ada ratu, mirip keraton tapi bukan keraton.
     
Wiratha  ; Wira = wira'i (bhs arab) orang yang selalu berusaha menghindari pelanggaran
                     Ta = perhatikan
** coba perhatikan!  sesungguhnya dia orang yang prawira / wirata!

Pringgodani ; Pringgo= penghalang
                        Ndani = ndanu (yang paling jadi perhatian sepertinya adalah pentagon)
** orang-orang yang jadi penghalang utama pagi pentagon.

Karumbo ; kang arum = yang memiliki nama yang harum dimasyarakat.

                        Terjemah
Seorang Ulama Yang Mengajarkan Agama Islam
( Yang Dianggap Ajaran Baru / K H Nurhasan al-Ubaidah ) Bekerjasama

1.1       Cerita awalnya, Panglima TNI ( ? ) mendapat tugas diantaranya adalah mengawasi berbagai macam gerakan-gerakan yang dianggap membahayakan keamanan negara, salah satu yang diawasi diantaranya ternyata adalah orang yang prawira (* Wiratha / wirata! ). Kebetulan waktu itu KH Nurhasan dan santri-santrinya juga dianggap berbahaya.                      
** Waktu itu memang banyak pemberontakan di Indonesia, termasuk golongan islam juga ada yang berontak misalnya DI TII, Kahar Muzakar dll. Kelompok KH Nurhasan yang membentuk keamiran juga dianggap membahayakan. **
  
            Panglima TNI mengajak musyawarah / rapat dengan bawahannya ( mungkin ) diantaranya adalah Soeharto (*basukesthi), TNI bagian penerangan (* Jati Kondho / semacam kapuspen ), TNI bagian surat menyurat (* Arya Walakas ), TNI yang penurut dalam hal surat-menyurat (* Arya Panurto / kurir ?). Masalah yang dibahas adalah; Panglima TNI merasa serba salah / repot dengan adanya laporan / tuduhan yang ditujukan kepada KH Nurhasan, konon KH Nurhasan (*Resi Manu Mayasa ) diceritakan mendirikan negara dalam Negara (araraton / aran ratu-ratuan). 
** Memang waktu itu KH Nurhasan sudah mempraktekkan kalau menjalani agama islam itu harus berjamaah, dilengkapi adanya amir, dan kebetulan dia  sebagai amirnya. Hal inilah yang menyebabkan dia dituduh mendirikan negara dalam negara. Kejadian ini terjadi awal tahun 60-an.**

1.2        Banyak kyai dari berbagai macam aliran agama dari berbagai pondok / golongan ingin tahu dan mencari KH Nurhasan ( ? ) yang konon dikabarkan tidak mau tunduk pada peraturan pemerintah, ingin mendirikan negara dalam negara. Kabar ini semakin dibesar-besarkan oleh Soeharto  (*Raden Basu Kesthi ? ). Sedangkan Panglima TNI sendiri belum ada minat membuktikan kabar itu.

1.3       Karena berita fitnah terhadap K H Nurhasan (?) semakin kuat, lama-lama Panglima TNI terpaksa memerintahkan seorang petinggi TNI yang memiliki nama yang harum dimasyarakat (*Prabu Karomba ), juga orang yang memiliki reputasi menjadi penghalang Pentagon (*pringgondani) untuk membuktikan kabar itu. Tugasnya petinggi TNI ( ? ) itu adalah, memanggil KH  Nurhasan al-Ubaidah( ? ), menanyai /mengurus kepastian kabar itu.
** Setelah KH Nurhasan menerapkan keamiran muncul isu mendirikan negara dalam negara. Desas-desus ini dibesar-besarkan oleh Soeharto hingga menjadi fitnah. Untuk menyelidiki fitnah ini Panglima TNI memerintah anggota petinggi TNI yang namanya harum dimasyarakat, untuk membuktikan kabar itu.
            #Singkat cerita. Panglima TNI mendengar kabar kalau KH Nurhasan dikabarkan mendirikan dalam nagara. Berita seperti ini semakin dibesar- besarkan oleh Soeharto. Untuk membuktikan kabar ini, panglima TNI mengutus orang yang  namanya terpandang.

2         Madeg ing kadhaton prameswari nata Dewi Jati Swara**1, pinarak ing praba suyasa, pananggap lir wetan. Angentossi kondorriro Sri Nata, ngiras ningalli ajaring bedaya srimpi, mboten watawis dangu Sri Nata kondur ngadhaton, prameswari amethuk aken lajeng lenggah satata, ginem kawotennannipun pancaniti lajeng tindak ing pambojanan.

                        Kamus
Jati swara ; jati = yang sesungguhnya  
                        Swara = suara / pembicaraan yang ada dalam masarakat
** orang yang bertugas mendengarkan suara / sesuatu yang jadi pembicaraan dimasarakat yang dianggap mencurigakan / membahayakan, dalam bayangan saya mungkin yang dimaksud adalah intel / informan.
     

                        Terjemah

2.1       Suatu saat Panglima TNI melakukan rapat / musyawarah dengan intelijen (*Jati Swara), membahas keadaan negara.
** Singkat cerita. Untuk membahas permasalahan ini, panglima TNI melibatkan bagian intelijen. Untuk menganalisa berbagai macam berita / suara yang ada dimasyarakat.



3         Madeg paseban jawi, Raden Basu Kesthi, Patih Jati Kondho, Arya Panurta, Arya Walakas, ginem siyaga dadamel. Arya Panurta kapatah lumampah dateng Pringgondani. Andhawuh aken karsaning sri nata wau dumateng Prabu Karomba ing Pringgondani, sasampunning samapta lajeng bidal sapanengkarriro, kapallan.
           
                         
                        Terjemah
3.1       Diluar agenda yang resmi dari TNI (paseban jawi), ada acara musyawarah antara Suharto ( ? ), TNI bagian penerangan, TNI bagian surat menyurat. Sebagian dari golongan ini ada yang mendapat tugas melaksanakan tugas dari panglima  TNI.
** Singkat cerita. Didalam tubuh TNI sendiri ada sekumpulan orang yang ingin memanfaatkan situasi ini, pimpinannya adalah Soeharto.  Disini Soeharto memiliki peran penting tentang jalannya pemasalahan,menjadi dalang dari fitnah yang dialami oleh KH Nurhasan dan santrinya serta cara penangannan permasalahan.   


4                 Madeg Prabu Karomba, nata raseksa ing pringgondani, den adhep ing Patih Kala Mangkara, Punggawa Kala Pulawa, Kala Pudenda, dereng dangu datengipun caraka wiratha, Arya Panurta**1. Sasampunning bagebinage, lajeng andawuhaken timballan nira Sri Nata Prabu Basu Murti, bilih Prabu Karomba dinuta animballi Resi Manu Mayasa, ing sapta arga, ingkang kawarti araraton, manawi mboten purun sowan dateng wiratha**2. Kerid lampahira Prabu Karomba, kadhawuhan masesa, aturipun Prabu Karomba sandika**3. Arya Panurta lajeng pamit wangsul dateng Wiratha, Prabu Karomba andawuh dateng Patih Kala Mangkara, ambidallaken punggawa kakalih**4, kautus dateng Sapta Arga, andawuh aken dawuhing nata Wiratha, lajeng bibarran.

Kamus
Kala mangkara ; Kala = orang yang berbahaya / sedang marah
                     Mangkara = mbrabak abang / orang yang menahan rasa amarah yang sangat besar 
** orang yang berbahaya yang saat itu emosinya sedang meledak-ledak.

Kala pulawa ( supalawa ) ; kala = orang yang berbahaya
                            Supa = ula / ular ( orang durhaka )
                            Lawa = kelelawar  
** orang durhaka yang bagaikan kelelawar maksunya mungkin, orang durhaka itu belum diketahui saat itu tapi fitnah yang disebar sudah ada dimana-mana, bagaikan kelelawar dimalam hari, ada suara tentunya pasti ada kelelawar. Pepetah sekarang,  ada asap pasti ada api.

Kala pudenda ;  Kala = orang yang berbahaya
                           Pudenda =  pa denda / penghukum
** seorang yang bertugas memberikan hukuman.


                        Terjemah
4.1       Panglima TNI memiliki anak buah yang namanya harum dimasyarakat ( karomba) yang jadi penghalang bagi pentagon (pringgondani), anak buahnya lagi ternyata adalah orang yang menyimpan rasa amarah, tukang fitnah, ada yang memiliki keinginan menghukum atau mungkin membalas.
4.2       Panglima TNI memerintah orang yang namanya harum dimasyarakat untuk menanyai perihal KH Nurhasan yang dikabarkan mendirikan negara dalam negara.    
4.3       Meskipun dalam hati terasa ruwet, tapi perintah tetap dilaksanakan.

            # Singkat cerita. Untuk mbuktikan kebenaran berita, panglima TNI mengutus anggotanya. Tapi ternyata anak buahnya adalah orang yang memiliki prasaan emosi. Yang menyebabkab permasalahan semakin ruwet.

5         Madeg paseban jawi, Patih Kala Mangkara, Punggawa Kala Pulawa, Kala Pudenda, rembag siyaga dadamel ngayuda**1. Badhe dateng wukir Sapta Arga. Sasampunning samapta lajeng bidhal sapanengkarrira, Togog Saraito dados pangajeng langkah.

                        Terjemah
5.1       Utusan dari Petinggi TNI yang bernama harum dimasyarakat yang ditugasi mengiterogasi KH Nurhasan    
melakukan persiapan, tugaspun dijalankan dengan pembagian tugas. Termasuk murid-muridnya KH Nurhasan juga diinterogasi. Dalam pelaksanaanya, TNI yang ditunjuk meminta bantuan pertimbangan ulama dari aliran agama islam yang lain. Tanpa sengaja, ulama yang dimintai bantuan adalah ulama yang durhaka (dalam hati ada niat jahat / Togog). Sehingga permasalahan menjadi semakin ruwet, panas.                
** Mungkin ulama diperlukan untuk pertimbanggan masalah ajaran agama yang dibawa KH Nurhasan itu sesat atau tidak, padahal pengetahuan  agama KH Nurhasan itu lebih banyak dari kyai  yang membantu tugas / memberi pertimbangan TNI.

# Singkat cerita. Tugas yag diberikan oleh panglima TNI dilaksanakan oleh orang yang memiliki perasaan emosi yang kelak akan membuat masalah semakin ruwet.

6                 Madeg Resi Manu Mayasa, mios ing pacrabakan den adep janggan Semara Santa, Puthut Supolawa, Nala Gareng, Petruk, para cantrik janggan ander sami sumiwi, ginem; sang resi langkung sungkawa, dene kawartosaken andaga karaton wiratha, ambalelo ing ratu. Mongko mboten pisan-pisan anyipta amakaten**1. Dereng dangu datenggira cantrik atur pariksa wonten damel, wonten damel ageng dateng. Katingal barising danawa arsa minggah ing pratapan, rame mireng swaraning tangising tiyang padusunan ingkang karisak, Puthut Supolawa lawan janggan Semara Santa sigra tumurun anglempakaken, sareng dumugi ing jawi kasompok inggahing wadya danawa lajeng tempuk prang**2. Tanpa wara-wara Puthut Supolawa lawan janggan Semara Santa ngamuk punggung mengsah, kathah danawa ingkang kanin lajeng bibar lumajeng sarsarran**3. Puthut Supolawa , janggan Semara Santa sakancanipun wangsul ngarsaning pandhita Manu Mayasa**4. Sadaya wau sampun andugi, punika  utussannipun sang nata ing wiratha, lajeng bibarran. Amung Resi Manu Mayasa angenggar-enggar  ing panggalih. Mijil saking padhepokan sadaya mboten kalilan anderek, among janggan Semara Santa, Nala Gareng, Petruk, lampahira kadya kabuncang ing wana**5 . Para wadya ditya angraos angsal kala desa, katingal bingah**6. Resi Manu Mayasa lumampah pribadi, lajeng sami marepekki. Sulayaning rebak dadiya prang, punggawa ditya sami pejah jinemparing, danawa ingkang alit-alit sami ngungsi gesang**7. Resi manu mayasa lajeng kondur. Palepattira titiga tan kantun. Sadumugining pacrabakan lajeng amesu semedi aneng pamelingan.

Kamus
Semara santa ; Semara = samar-samar, ada tapi tidak jelas  
                               Santa = Santana / pembatu         
** orang yang membantu bangsa Indonesia secara samar-samar, dan keberadaanya juga samar-samar, dikatakan ada tapi tidak ada pengakuan yang jelas terhadap masyarakat, tapi masyarakat tahu kalau ( keamiran ) itu sesungguhnya ada.  

Puthut supolawa ; Puthut = murid yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi
                              dari murid yang lain 
                              Supo = ula / ular ( orang durhaka )
                               Lawa = kelelawar
** seorang murid ( KH Nurhasan) yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari murid yang lain ( disekolah semacam ketua OSIS ), tapi samar-samar sesungguhnya dia orang durhaka, musuh dalam selimut bagi K H Nurhasan dan murid-murid yang lain.

                        Terjemah

6.1       Dipondok KH Nurhasan berkumpul bersama anak didiknya, santri-santrinya. Tidak semua murid KH Nurhasan itu baik, ada juga yang jadi musuh dalam selimut, berhati jahat, iri, dengki,  dendam terhadap KH Nurhasan. Diperkumpulan itu KH Nurhasan bercerita kepada murid-muridnya kalau hatinya sangat susah, galau sebab dikabarkan mendirikan negara dalam negara, tidak mau tunduk pada aturan pemerintah. Padahal dia tidak pernah melakukan hal itu.                                                                                                          
6.2       Taklama kemudian datanglah muridnya KH Nurhasan ( yang senior) memberitahukan ada utusan dari TNI ( mungkin utusan dari Petinggi ) yang datang, mulai saat itu datanglah pekerjaan besar ( permasalahan besar). Semenjak saat itu murid-murid KH Nurhasan mengalami masalah yang berat ( fitnah \ cobaan yang berat )
6.3       Tanpa banyak bicara KH Nurhasan sebagai seorang amir dan santrinya yang senior segera mengatasi masalah itu. Permasalahan berhasil diatasi. Semua yang mengacau menyelamatkan diri.
6.4       setelah masalah reda sementara waktu, kembali berkumpul dengan KH Nurhasan sebagai seorang ulama, mengaji Alquran dan Hadist.
6.5       Suatu saat KH Nurhasan dan santrinya yang senior keluar dari pondok jalan-jalan. Waktu itu keadaan hatinya sangat kacau / ruwet. Tidak semua santrinya diberi tahu keadaan ini.
6.6       Bagi utusan Petinggi TNI, bertemu dengan K H Nurhasan itu seperti bertemu dengan penjahat negara ( penjahat kelas kakap ). Mereka merasa sangat senangberhadapan dengan KH Nurhasan sendirian sebagai ulama.
6.7       Dalam pertemuan terjadi perselisihan, utusan Petinggi TNI kalah / gagal ( mungkin jawaban tidak sesuai yang  diharapkan  ), terus pulang. KH Nurhasan tetap melanjutkan ajaran agama islam seperti biasanya.
            # Singkat cerita. KH Nurhasan dan para santrinya merasa susah diyuduh telah mndirikan negara dalam negara dan tidak mau tunduk pada pemerintah. Padahal dia tidak melakukan hal itu. Dia hanya mempraktekkan bahwa agama islam itu harus ijalani dengan cara berjama'ah.emang kesannya, karena berjamaah jadinya seperti mendirikan negara dalam negara.


7         Madeg ing kahyangan jonggring saloka, Sanghyang Giri Nata anuju mios aning bale marchu kondho. Ingkang sumiwi, Sanghyang Narada, Sanghyang Brama, Sanghyang Giri Nata. Sanghyang Giri Nata andawuh aken Sanghyang Narada kinen tumurun dumateng marcapada, amaringi jodho dumateng Resi Manu  Mayasa twin janggan Semara Santa, widodari kakalih**1; 1) Dewi Retna Wati puniko dadya  jodhonipun Resi Manu Mayasa**2. 2) Dewi Kanastri dadya jodhonipun janggan Semara Santa**3. Ananging sarehning Resi Manu Mayasa daat lenggana, dados kadawuhan kedah mawi warana**4 . Widodari kakalih tinimballan lajeng binusannan dening Sanghyang Narada sami warni simo**5. Lajeng kabekta dateng marcapada deneng Sanghyang Narada**6. Sanghyang Giri Nata lajeng jengkar.

                        Kamus
Retno wati ; Retno = ratna / permata  
                              Wati = cantik / indah       
** mungkian yang dimaksud adalah sifat, sebagai seorang ulama dia sesungguhnya bagaikan permata yang indah, ajaran agamanya yang murni dan tidak ada tujuan untuk kepentingan duniawi.

Kanastri ; Konnastiti = supaya yang hati-hati  
** mumgkin yang dimaksud adalah masalah keamiran yang dia saat itu supaya yang hati-hati, jangan sampai bubar, sebab kalau bubar mendirikannya itu susah, ( ini semacam nasihat dari wali songo yang telah menyebarkan agama islam dipulau jawa jaman dulu, ada kemungkinan dulu dipulau jawa jaman wali songo menyebarkan agama islam itu pernah ada keamiran, cuma saya tidak tahu siapa yang jadi amir saat itu).

                        Terjemah

7.1       Dimarkas PBB, sekjen PBB rapat dengan dewan keamanan PBB dan utusan PBB (mungkin kebetulan dia CIA). Dalam pertemuan (musyawarah ) itu sekjen PBB memutuskan untuk mengutus seorang utusan (CIA  ?) datang ke Indonesia memberikan pasangan/ tambahan/ embel-embel cerita / kabar / desas-desus.
7.2       1)Sebagai seorang ulama, K H Nurhasan itu diceritakan bagaikan permata yang indah.
** Mungkin ajaran KH Nurhasan itu sangat berbeda dengan kelompok yang lain, lebih lengkap termasuk bagaimana cara mempraktekkan agama islam yang sesungguhnya, dia bagaikan permata yang indah.
7.3       2)Sebagai seorang amir, KH Nurhasan harus sangat hati-hati dengan kedudukannya itu. Selain itu juga harus mengusakan kelancaran beribadah bagi para santrinya.
** Mungkin masalah keamiran saat itu masih dianggap sangat rawan ( berbahaya ) untuk dipraktekkan.**
7.4       Sebab KH Nurhasan dalam mempraktekkan islam yang berjama'ah tidak mau merahasiakan urusan keamiran, akhirnya sekjen PBB memberi embel-embel dua macam desas-desus / cerita.   
7.5       Kedua hal ini kemudian oleh utusan PBB (CIA ?) diceritakan kemasyarakat sebagai sesuatu yang sangat membahayakan.
7.6       Kedua kabar tadi disebar luaskan kepada semua mayarakat (ngarcapada).
            # Ringkas cerita. Sebab KH Nurhasan tidak mau mempraktekkan keamiran secara rahasia, hal inilah yang membuat sekjen PBB tersinggung. Kemudian sekjen PBB mengutus seseorang untuk menyampaikan dua hal tentang KH Nurhasan. 1) sebagai seorang ulama, dia ulama yang baik. 2) masalah keamiran iti kalau tidak dirahasiakan memang berbahaya.


8         Madeg ing Wukiratawu, Resi Manu Mayasa, kakaring dateng patalunan, ingkang umiring among janggan Semara Santa**1, janggan Semara Santa rumiyen nduweni tataneman ingkang saweg nedeng**2. Ing ngriku kasarengan rawuhipun Sanghyang Narada, angecullaken simo kakalih**3. Janggan Semara Santa kapapag simo kakalih badanipun gumeter, bokong ngoplok lajeng wangsul malajeng. Simo kakalih lajeng sami ambujeng**4. Sareng dumugi ngarsanipun Resi Manu Mayasa, janggan Semara Santa ulat pucet sarwi karengkossan. Karinget gumobyos matur nyuwun tulung kabujeng ing simo**5. Resi Manu Mayasa lajeng mapag simo kakalih wau**6. Sareng kapanggih simo lajeng dipun jemparing pejah sadaya, kuwondonipun sirno, Mboten watawis dangu pawestri kakalih, katingal lumampah wonten ngajengipun Resi Manu Mayasa, ing ngriku sang resi langkung kasmaran**7. Lajeng ngetut aken sapurugipun. Sang resi kaget rawuhipun Sanghyang Narada. Inggih punika Dewi Retna Wati kaliyan Dewi Kanastri**8. Sanghyang Narada andawuh aken dawuhing Sanghyang Giri Nata**9. Dewi Retna Wati sampun pinasthi kapareng dados jodhonipun Resi Manu Mayasa**10, Dewi Kanastri dados jadhonipun janggan Semara Santa**11. Lajeng kadawuhan ambekta mantuk. Sanghyang Narada kondur makahyangan.
           
                        Kamus
Wukiratawu ; Wukir = gunung
                               Tawu = menimba ( ilmu)
** gunung tempat menimba, yang dimaksud adalah sebuah tempat untuk menuntut ilmu, kalau sekarang adalah pondok pesantren berontak merebut kekuasaan dari pak Karno )

Sakutrem ; Sokotrem =    iSO   teKOne  tenTREM 
** orang yang suatu saat akan mendatangkan ketenteraman bagi bangsa Indonesia setelah selama 20 tahun bangsa Indonesia tidak merasakan ketenteraman saat dipimpin pak Karno  

Sumarwono ; Sumar = samar-samar
                                Wono = alas / hutan ( bagai dihutan )
** sebuah keadaan bagaikan ada didalam hutan, keadaan hati ruwet, susah, ngeri, takut, kawatir, semuanya bercampur jadi satu.

                        Terjemah
8.1       Dipondok santri-santri KH Nurhasan mulai bertambah banyak, berkembang  pesat.
8.2       Ibarat tanaman di perkebunan saat itu sedang tumbuh subur. Diberbagai tempat mulai mendapat pengikut pengajian.
8.3       Disaat jumlah pengikutnya bertambah pesat, saat itulah muncul fitnah yang mempolitisir kedua sifat / masalah ( yang dinomor 7 ).
8.4       Yang paling dikawatirkan oleh KH Nurhasan seiring dengan perkembangan fitnah adalah masalah keamiran. Biarpun fitnah berkembang luas keamiran tetap tidak boleh bubar. Sebagai seorang ulama dia tidak kawatir terhadap ilmu agama bab keamiran yang diajarkannya.
8.5       Sebagai seorang amir, KH Nurhasan sangat kawatir terhadap keamiran yang dia pegang.
8.6       KH Nurhasan menghadapi fitnah itu dengan bertindak sebagai seorang ulama. Biarpun dia mendapat cobaan berat, diamerasa senang.
8.7       Kedua isu tadi dihadapi dengan sungguh-sungguh akhirnya tampaklah kalau sesungguhnya kedua fitnah itu terlalu mengada-ada. Kedua isu/ cobaan itu memang semakin lama terasa semakin berat.
8.8       Setelah kedua sifat fadi semakin jelas, K H Nurhasan terkejut dengan adanya keterlibatan dari utusan PBB (CIA ?) dalam kedua masalah tersebut.
8.9       Isu tadi disebar konon yang punya ide adalah sekjen PBB.
8.10     Sebagai seoramg ulama KH Nurhasan itu bagaikan permata yang indah.
8.11     Sebagai seorang amir dia memang harus berhati-hati terhadap keamiran yang dia pegang.
Setelah tujuan utusan PBB (CIA ?) datang ke Indonesia adalah untuk memfitnah KH Nurhasan dan santri-santrinya tercapai, utusan segara pulang/ menghilang (tidak melakukan aktivitas lagi).
            # Singkat cerita. Setelah dua penilaian dari PBB itu beredar dimasyarakat, kini KH Nurhasan dan santrinya mendapat permasalahan.


 
9         Madeg Prabu Karomba nata danawa ing pringgondani, ingadep Patih Kala Mangkara, para punggawa sami mungging ngarsa. Ginem; sang nata angarsa-arsa, para punggawa ingkang dinuta angrabaseng wukir sapta arga. Mboten dangu dateng ipun kyai Togog Saraito, atur pariksa bilih para punggawa ingkang dinuta dateng sapta arga sami pejah dening Resi Manu Mayasa**1. Srinata langkung duka, lajeng dawuh dumateng patih kinen saweg dadameling yudha. Sasampunning samapta, sang nata  lajeng bidal para punggawa sawadya bala nira.

                        Terjemah
9.1       Petinggi  TNI yang namanya harum , mengadakan rapat (musyawarah ) mengenai hasil kerja dari para utusannya. Ternyata para utusannya kalah ( gagal / tidak sesuai harapan ). Ditambah laporan dari kyai yang durhaka ( ada niat hati jahat ) akhirnya terjadi perselisihan antara petinggi TNI beserta bawahannya dengan KH Nurhasan dan satri-santrinya.
         Petinggi TNI (karomba) melanjutkan / mempersiapkan lagi rencana untuk menginterogasi /(.....?) KH Nurhasan dan santri-santrinya.
            # Singkat cerita. Anak buah petinggi TNI yang ditugadi menangani permasalahan KH Nurhasan gagal. Apalagi ditambah keterangan - keterangan dari orang yang durhaka, permasalahan menjafi semakin pelik.



10     Madeg Resi Manu Mayasa sekaliyan ingkang garwa Dewi Retna Wati saweg sami papasihan**1. Janggan Semara Santa mareg ing ngarsa lawan garwa nira Dewi Kanastri**2. Dewi Retna Wati kepingin ngubengi wukir sapta arga, lajeng tindak lawan Resi Manu Mayasa. Janggan Semara Santa lawan kang garwa lajeng anderek**3. Sareng dumugi imbanging redi ingkang sisih kilen ing ngriku taksih wana wasa, langkung wingit**4. Wonten gandarwa tapa brata, nama Satru Tapa**5. Anengga wohing sumarwana**6. Amargi gandarwa wau tampi wangsiting jawata, bilih woh sumarwana sampun mateng kapurih neda bojonipun, awit gandarwa Satru Tapa dereng gadah suta, daat kepingin darbe suta, panuju gandarwa satru tapa kesah nuwenni bojonipun**7, Resi Manu Mayasa lawan kang garwa dateng, Dewi Retna Wati sumerep woh sumarwana saka langkung kapengin nedha, lajeng pinethik katedha. Raosipun langkung miraos**8. Satelasing nedha woh sumarwana, gandarwa Satru Tapa dateng, sang resi lawan kang garwa langkung kaget punapa dene janggan Semara Santa lawan bojonipun sami gumeter sadaya**9. Gandarwa ngucap,” Sapa wong kang wanuh wani ngunduh woh kang sun sengker iki mau”. Sang Resi Manu Mayasa bilih ingkang ngaken methik. Lajeng kaparing aken daten
Ng ingkang garwa, awit daat kapengin nira**10. Gandarwa matur,” Yen makaten kalilanna sajiwa raga**11. Ingkang garwa kaaliho nama Dewi Sumarwana**12. Dene ing tembe bilih mijil jalu,  kanamaknaa Sakutrem. Awit gandarwa wau nama Satru Tapa” **13. Sang resi anyagahi , gandarwa musna majing guwa garba nira Dewi Sumarwana**14. Lajeng anggarbini, sadaya lajeng sami wangsul ing pratapan.

                        Terjemah
10.1     Sebagai seorang ulama, semakin lama semakin jelas kalau dia adalah ulama yang baik.
10.2     Sebagai seorang amir KH Nurhasan jelas-jelas harus sangat hati-hati.
10.3     Suatu saat KH Nurhasan terbawa kedalam permasalahan politik yang sangat rahasia (aktivitas bawah tanah).
10. 4    KH Nurhasan melakukan perjalanan diwilayah bagian barat, melihat keadaan santri-santrinya. Memang diwilayah bagian barat itu keadaannya lebih gawat.
10.5     Disitu ada seseorang yang mempunyai masa lalu yang jelek (gandarwa / Suharto ), dia adalah musuh dalam selimut (satru tapa) bagi pemerintahan pak Karno.
            **Ada cerita yang menyebutkan kalau pak Harto sebelum jadi presiden prnah terlibat permasalahan korupsi.
10.6     Dia sedang menunggu buah dari kekacauan (woh sumarwana).
            **Ingin jadi      pemimpin \ presiden menggantikan pak Karno .
10.7     Dia menginginkan cita-citanya bisa berlanjut (darbe suta). Menurut pendapat dari seorang negarawan (wangsiting jawata), memang saat itu pak Karno sudah waktunya diganti ( dilengserkan ).
10.8     KH Nurhasan tahu keadaan bangsa Indonesia yang saat itu sedang gawat tak lama lagi akan terjadi sebuah peristiwa besar  (pemberontakan).
10.11   KH Nurhasan sendiri ( mungkin ) juga menginginkan kalau pak Karno diganti. Akhirnya KH Nurhasan memutuskan untuk bergabung dengan Suharto.
10.12   Karena Suharto itu orang yang mempunyai masa lalu yang buruk dan orang yang berbahaya, semenjak bergabung dengan Suharto, KH Nurhasan dan santri-santrinya ada dalam bayang-bayang kekacauan / bahaya (*sumarwana).
10.14   Apa bila usahanya bergabung dengan Suharto itu berhasil, suatu saat nanti akan memunculkan orang yang akan mendatangkan ketenteraman (*sakutrem) bagi bangsa Indonesia.
** Bangsa Indonesia baru bisa merasakan ketenteraman setelah selama 20 tahun kepemimpinan pak Karno tidak merasakan ketenteraman. **

            # Singkat cerita. Ada oknum TNI (Soeharto) yang menjadi musuh dalam selimut (gandarwa satru tapa), dia sedang berusaha mencari keuntungan dari keruhnya permasalahan. Kebetulan KH Nurhasan dan santrinya sedang mendapat permasalahan. Akhirnya keduanya bekerjasama. Dari kerjasama itulah suatu saat nanti akan memunculkan orang yang bisa menenteraman nusantara.


11     Madeg Puthut Supolawa, para puthut rembag tatanan twin ngajeng-ajeng rawuhipun Resi Manu Mayasa.  watawis dangu Resi Manu Mayasa rawuh, lajeng lenggah satata, twin nyariosaken lalampahanipun kang garwa naliko dahar wohing sumarwana. Dereng dangu ngandikan lawan PuthutSupolawa. Kasaru geger ing jawi, datenging danawa ing pringgonadani**1. Puthut Supolawa, janggan Semara Santa sakancanipun mijil ing jawi, Resi Manu Mayasa ugi mamanuki lampahing jajanggan. Sareng dumugi ing jawi sampun prang rame. Prabu Karomba mengsah Resi Manu Mayasa. Sang prabu pejah jinemparing**2 . Sanghyang Bayu tumurun nalabung**3. Prang sampak. Para ditya pringgondani kathah ingkang pejah, kang kantun lajeng ngungsi gesang**4. Sanghyang Bayu kundur makahyangan. Resi Manu Mayasa lenggah satata mungging pacrabakan twin Puthut Supolawa, janggan Semara Santa. Sadaya manguyu jajanggan kang sami unggul ing yudha, lajeng sami bojana andrawina.    

                        Terjemah
11.1     KH Nurhasan bertemu / berkumpul dengan santri-santrinya, menceritakan apa yang dialami / dikerjakan, hingga kelompoknya saat itu ada dalam bayang-bayang bahaya / kekacauan. Padahal tidak semua santri KH Nurhasan itu orang yang baik. Ada juga santri KH Nurhasan yang mempunyai perasaan dendam / sakit hati kepadanya (puthut supalawa) yang ternyata adalah murid-murid senior.
11.2     Petinggi yang namanya harum ( ? ) dan anak buahnya melaksanakan tugas ...untuk meng.... KH Nurhasan dan santrinya. Tapi dia yang malah kalah /gagal. Apa yang dia lakukan tidak dilanjutkan lagi (*pejah jinemparing).
11.3     Perselisihan pun tak bisa dihindari. Hingga akhirnya suatu saat KH Nurhasan dan santri- santrinya mendapat dukungan dari PBB (*sang hyang bayu).        
11.4     Akhirnya fitnah terhadap KH Nurhasan dapat diakhiri.
** Menurut versi wayang, Petinggi TNI ikut menyakiti terhadap KH Nurhasan dan santrinya karena terbawa / terhasut oleh fitnah yang dibuat-buat oleh anak buahnya dan kyai-kyai yang durhaka. **
** Dulu antara tahun 1960 sampai sebelum G 30 S,  santri-santri KH Nurhasan banyak yang ditahan dalam waktu yang lama tanpa ada alasan yang jelas. Suatu saat ada orang kristen yang membantu mengatasi masalah ini. Dan masalah ini bisa diakhiri, santri-santrinya yang dipenjara kemudian dibebaskan. **
# Singkat cerita. Permasalahn perselisihan antara KH Nurhasan dengan anggota TNI dituntaskan melibatkan utusan PBB.

Jongko ini berlanjut kecerita judul "Bambang Kalingga" dan “ Babad Wana Marta “ alinea 1.  Dengan penggabungan dua terjemah cerita nanti akan bisa dijelaskan bagaimana caranya menegakkan hukum dengan memanfaatkan cerita wayang.

Isyaallah dan semoga tulisan saya ini bermanfaat dan barokah. Aaammiiiinn.

Assalamu'alaikum wrm wbr.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar