Jumat, 07 Mei 2010

Lampahan Dewa Brata Rabi

JP - 8 Dewa Brata Rabi

DEWA BRATA RABI


1 Jejer ing nagari Gyanti Pura, sang Prabu Darma Muka, mios ing pancaniti siniwi ingkang putra Ditya Wahmuka twin Ditya Arimuka, miwah patih Trimuka**1 saha para punggawa pepak. Ingkang rinembag ingkang putra putri Dewi Ambika, Dewi Ambiki twin Dewi Ambaini tinantun krama sami tan arsa**2. Sang Prabu emeng ing galih, awit kathah para Raja para ratu manca negari ingkang samya anyuwun jodho.**3 Kasaru datengin caraka saking Srawanti Pura. Ditya Kala Citra Rata kinen mangarsa. Caraka dinangu matur ingutus Gusti nira Prabu Citramuka**4, kinen angaturakan nawala, tinampen binuka suraos nyuwun jodho**5 Sang nata ewet ing galih anggenira arsa mangsuli.**6 Ingkang putra kakalih ingkang warni Ditya, nama Ditya Wahmuka twin Arimuka matur supados kawangsulan mawi adeking sayembara prang**7. Sinten engkang saget ngawonaken piyambakipun dados jatu krama kaliyan ingkang mbakyu putri titiga wau. Sang nata asmu suka. Caraka kinen matur gustinira, bilih ingkang putra kinarya sayembara prang, sinten ingkang saged ngawonaken kadangira nama Ditya Wahmuka twin Arimuka punika dadosso jatu kramanipun**8, caraka lajeng amit mundur, kaliyan bidal. Sang nata dawuh angrakit kalangan ing alun-alun arsa angundanggi.**9 Ditya Wahmuka twin Ditya Arimuka kondur mring Kadipaten sang nata ngadaton.

Kamus
Dewa Brata
Dewa = orang kuat, penting, berpengaruh
Brata = barat
#Orang yang sangat penting dan berpengaruh, nanti jadi orang kuat yang memihak blok barat dalam perang dunia perang tanding.

Gyanti Pura
Gyat = rajin, tekun
Pura = Indonesia
#Ada (partai/golongan) yang sangat giat (berorganisasi/bekerjasama) di Indonesia.

Prabu Darma Muka
Darma = baik
Muka = wajah/nama
#Pimpinan dari partai/golongan yang namanya sudah dikenal baik oleh masyarakat.

Wahmuka wah = sanjungan
Arimuka ari = adik pengurus
Trimuka tri = ketiga/anggota-anggota
Muka = wajah/nama
#Anggota-anggota/Pengurus-pengurus dari sebuah golongan/partai dia memiliki watak keras/emosional seperti watak buta.

Dewi Ambika, Ambiki, Ambaini---Emban/pembantu
#(mungkin) ada tiga orang yang jadi anggota Kabinet/Menteri.

Terjemah

Ulama NU di Pihak Barat, Bekerjasama
( Dewa Brata Rabi )

1 Di Indonesia ada golongan / partai yang sangat giat berorganisasi / berkumpul (Gyanti Pura). Pimpinannya juga sudah dikenal sebagai orang yang baik (Prabu Darmo Muka). Mempunyai anak buah / pengurus yang mudah emosi / temperamental (Ditya), senang disanjung (Wahmuka) jumlahnya banyak (Arimuka, Trimuka).
2 Tidak semua anggotanya temperamental (Ditya) ada juga yang baik. Ada 3 orang / golongan. Mereka semuanya saat itu sedang menjabat di Kabinet (Ambika, Ambiki, Ambaini). Ketiganya diminta untuk bekerjasama / bergabung tidak mau.
3 Sudah banyak golongan / partai yang mengajak dia untuk masuk dalam golongan / partainya tapi ditolak.
4 Tak lama kemudian ada LSM dari luar negeri yang datang ke Indonesia (Srawanti Pura). utusan itu adalah LSM dari Luar negeri yang ciri-ciri negaranya rata, tidak memiliki gunung (Citra Rata / Belanda?). Dia diutus oleh pimpinan kumpulan LSM dari luar negeri yang punya nama / pengaruh yang besar / terpandang (Citra Muka).
5 Dia menyampaikan keiinginan dari atasannya untuk bekerjasama.
Pimpinan golongan / partai merasa repot memberikan jawaban.
6 Usulan dari pengurus anggota biarlah ditentukan nanti dalam debat /rapat.
7 diantara anggota partai / kumpulan ada yang usul kalau keiga anggotanya yang saat itu jadi anggota cabinet akan bergabung dengan siapa nanti ditentukan dalam acara diskusi / debat.
8 Utusan dari luar negeri teelah mendapat jawaban. Jawaban itu didapat dari usul anak buahnya.Siapa yang bisa mengalahkan / memenuhi persyaratan akan diterima. Usulan ini diterima oleh pimpinan LSM dari luar negeri.
9 Pengurus dan anggota segera menyiapkan acara.
*)Jongko ini menceritakan tentang sebuah golongan / partai. Kejadian ini terjadi. Pada waktu itu BJ. Habibie masih duduk dalam Kabinet / menjadi Menteri. Apakah yang dimaksud golongan / kumpulan / partai ini adalah partai Golkar? LSM dari luar negeri manakah yang dulu pernah mengajak bekerjasama. Coba diteliti.



2 Madeg ing gupit Mandragini, sang padni Wara Swargandini pinarak ing pananggap praba suyasa, ing ngadep ingkang putra Dewi Ambika, Ambiki twin Dewi Ambaini,**1 pepak para parekan, ginem ; dangu sang nata anggenira amanconiti. Kasaru kondorira sang nata, pinenthuk ing garwa, bilih kang putra kinarya sayembara prang. Prameswari suka jumurung ing karsanira sang nata**2.

Kamus
Dewi Swargandini
Swarga = telah meninggal / sudah tidak menjadi pengurus lagi.
Dini ( Arab ) = Agama
#Ada orang yang semula menjadi pengurus keagamaan tapi kemudian keluar / pindah terjun ke dunia politik.


Terjemah
1 Pimpinan golongan / partai rapat bersama penasehat yang terdiri dari mantan ulama yang telah terjun ke dunia politik (Swargandini), masalah rencana penentuan tiga orang / golongan yang jadi anggota kabinet itu nanti akan bergabung dengan siapa, akan ditentukan dalam debat / musyawarah yang sangat alot (tanding).
2 keinginan ini berasal dari para peserta anggota (kang putra), para peserta sidang / penasehat memberi jawaban yang setuju.
*)Coba diteliti partai manakah yang dulu diikuti oleh B J habibie dan mempunyai penasehat mantan ulama


3 Madeg ing paseban jawi, Patih Trimuka twin para punggawa. Patih Trimuka dawuh ngrakit kalangan ing alun-alun saha dawuh siyaga ingutus undang-undang angadegaken sayembara prang**1. Sinten ingkang saged ngawonaken putra nata, Ditya Wahmuka twin Ditya Arimuka badhe kaganjar putra nata Dewi Ambika, Ambiki twin Ambaini.**2 Sasampunipun samapta lajeng bidallan.


Terjemah
1 Anggota / pengurus dari sebuah golongan / partai mengadakan musyawarah / rapat / debat.
2 Barang iapa yang bisa mengalahkan / mengikuti keinginan dari para pengurus / anggota peserta sidang, nanti dipersilahkan bergabung / bekerjasama dengan tiga anggotanya yang sedang jadi anggota cabinet (ambika, ambiki, ambaini).


4 Madeg ing Srawanti Pura, Prabu Citramuka, ngadep patih Citra Rata**1 twin para punggawa Ditya. Ginem ; sang nata angarsa-arsa punggawa Ditya ingkang dinuta maring Praja Gyanti Pura sampun sacandra dereng wonten dateng. Sang Prabu miji Punggawa pinisepuh kinen anusul caraka kang dinuta mring Gyanti Pura**2. Ditya Kalamuka, Ditya Kala Dahana, Ditya Kala Maruta**3 sampun mangarsa lajeng dinawuhan sandika, amit rinilan sarta kinantenan walu cumbu kakalih wija mantri,**4 lajeng pangkat bibarran. Lampahipun dumugi ing margi kepapag barisan Ditya ing Gyanti Pura, sulayaning rembag dadya prang, wasana sesimpangan margi**5.

Kamus
Srawanti Pura
Srawanti = sowan
Pura = Indonesia
#Datang ke Indonesia.

Ditya Kala Muka = wajah, peringai
Ditya Kala Dahana = geni, api, emosi, panas
Ditya Kala Maruta = angin, desas-desus.
#mereka adalah orang-orang yang jelek dari wajahnya (Kala Muka) tampaklah kalau dia orang yang sangat emosional (Kala Dahana) dalam acara debat / rapat yang ramai / ribut (Kala Maruta ).


Terjemah
1 ada sebuah cerita tentang pimpinan dari LSM luar negeri yang terkenal (Prabu Citra Muka) dan berpengaruh, sedang menugaskan anggotanya di Indonesia (Srawanti Pura), yang mempunyai seorang / segolongan perwakilan LSM dari Belanda (Citra Rata). Dan anggota-anggota lainnya yang mempunyai niat tidak baik (para ditya).
2 Sang pemimpin sedang mengutus anak buahnya untuk mengetahui bagaimana hasil dari utusan yang terdahulu.
3 Orang-orang yang diutus memiliki cirri-ciri, dia adalah orang yang terpandang / terhormat (Kala Muka) tampak emosional (Kala Dahana) dan senang memancing permasalahan / keributan (Kala Maruta).
4 Mereka didampingi oleh pembicara (walu cumbu) orang yang menangan (wija / wijaya) dan mempunyai kedudukan penting (mantri).
5 Suatu saat pernah ada komunikasi antara LSM dari luar negeri (srawanti pura) dengan orang yang giat berorganisasi (gyanti pura). Yang terjadi adalah perselisihan, tapi tidak berlanjut.


5 Madeg ing nagari Ngastino Prabu Santanu, mios ing pandapi ingadep ingkang putra Raden Arya Dewa Brata twin Patih Jaya Prayitna, miwah para punggawa pepak. Ginem ; ingkang putra Dewa Brata tinantun krama tan arsa, awit anglampahi wahdat,**1 sang nata dawuh animbali ingkang putra Raden Citra Gada miwah Raden Citra Sena. Sampun mangarsa, lajeng tinantunan krama, matur bilih tan karsa, awit anglangkahi ingkang raka Raden Dewa Brata, asmu meksa, kang putra Dewa Brata dangu-dangu karsa.**2 Lajeng dinawuhan malebet sayembara dateng ing Praja Gyanti Pura, sarto wineling kinen mampir ing Pratapan Wukir Retawu nyambut Punakawan Semar, Gareng, Petruk lajeng bidal.**3


Terjemah
1 Di Indonesia ada sebuah golongan / partai yang orangnya banyak menempati posisi dipemerintahan (Sentanu Raja). Mempunyai Ulama-Ulama penting yang akrab dengan blok barat (Dewa Brata). Mempunyai wakil-wakil yang selalu siap menjalankan perintah setiap saat.
# Sepertinya yang dimaksud golongan disini adalah golongan orang-orang Nahdatul Ulama. Tapi tidak semua Nahdatul Ulama disebut Sentanu Raja
Pengurus-pengurus / orang-orang NU menghendaki agar Ulama-Ulama penting / Kyai Langitan (Dewa Brata) mau bekerjasama / bergabung dengan partai / pengurus lain. Kyai Langitan tidak mau. Dia sudah berjanji memilih mandiri / exlusif / tidak bergabung dalam kepengurusan partai (nglampahi wakdat).
2 Dari pimpinan Nahdatul Ulama ada nasehat kepada LSM / politisi dari luar negeri agar bekerjasama langsung dengan anggota kabinet. Tapi LSM / politisi luar negeri menolak. Sebab tidak selayaknya bekerjasama langsung dengan anggota kabinet. Sedangkan kyai langitan yang semula menolak bekerjasama / bermitra dengan anggota kabinet, karena didesak terus menerus oleh pengurus NU akhirnya diterima juga.
# Mungkin dulu pernah ada LSM / politisi dari AS (citra gada) dan Inggris (citra sena) yang sering berhubungan dengan Nahdatul Ulama (sentanu raja).
3 Sekalian mengikuti acara perlombaan untuk mendapatkan mitra politik. Sebelum berangkat dinasehati mintalah dukungan/restu dari keamiran LDII dan santri-santrinya (mampir ing Pratapan Wukiro Tawu nyambut Punokawan).
#Dulu memang pernah waktu NU mengadakan musyawarah. LDII memberikan bantuan dana. Bagaimana dengan dukungan keamiran terhadap Kyai Langitan, penulis belum tahu.


6 Madeg ing Pratapan Wukira Tawu, sang Bagawan Abiyasa, lenggah ing pacrabakan ingadep para puthut mangu jajanggan miwah Semar, Nala Gareng, Petruk. Kasaru datengipun ingkang raka Raden Dewa Brata, anyariosaken punapa sedya nira, sarta nyambut parepattira titiga. Sang Begawan Abiyasa angaturaken, Raden Dewa Brata lajeng pangkat kaderaaken parepattira titiga.**1


Terjemah
1 Di pondok tempat berkumpulnya amir (Semar, Abiyasa), para Ulama-Ulama sepuh, pengurus-pengurus (Puthut) dll, tanpa disangka-sangka kedatangan Kyai Langitan (mungkin juga perwakilan). Dalam pertemuan dia mengutarakan apa yang jadi keinginannya. Dari keamiran, apa yang jadi keiinginannya dipenuhi dan didukung oleh keamiran (kaderekan parepattiro titiga).


7 Madeg ing madyaning wana, lampahira Dewa Brata twin parepattira titiga dumugi ing wana kapapag baris Ditya saking Srawanti Pura, dadya prang**1. Danawa pejah sadaya jinemparing dening Raden Dewa Brata**2. Raden Dewa Brata lajeng lampahira dateng nagari Gyanti Pura kaderekaken parepattira titiga**3.


Terjemah
1 Kyai Langitan mulai melaksanakan permintaan-permintaan pengurus NU, suatu saat bertemu dengan anggota-anggota LSM dari luar negeri dan terjadi perselisihan / pertikaian. Semua dapat dikalahkan / diatasi.
2 Semua orang yang menghalangi keinginan kyai langitan untk terjun kedalam dunia politik dapat diatasi.
3 Keiinginan untuk mendapat / mencari mitra politik dilanjutkan.
#Barangkali Ulama-Ulama / Kyai-Kyai Langitan mendapat halangan-halangan dari LSM luar negeri. Kemungkinan berasal dari Belanda.Tapi semua dapat dikalahkan.


8 Madeg nagari Srawanti Pura, Prabu Citra Muka mios ing pandapi, ingadep Patih Citra Rata twin para punggawa ditya.**1 Ginem ; sang nata angarsa-arsa caraka kang dinuta mring Gyanti Pura, sampun mangarsa dinangu matur, bilih nawala winangsulan suraos putranira kinarya sayembara prang. Kasaru datengipun Kyai Wija Mantri matur tiwasing margi. Ditya sami pejah sedaya dening Raden Dewa Brata.**2 Sasampunika lajeng dateng Gyanti Pura angedeggi sayembara. Sang nata miyarsa aturing Kyai Wija Mantri, Teja Mantri duka yayah sinipi, lajeng dawuh mring Patih Citra Rata kinen angundangugi wadya bala**3. Sang Prabu arsa lumurug mring Gyanti Pura.**4 Sasampunira sami samapta, lajeng bidal.


Terjemah
1 Ada pimpinan LSM / politisi dari luar negeri yang terkenal yang sering mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Wakil-wakilnya dari Belanda.
2 Mereka semua sedang menanti perkembangan keadaan. Hasilnya, keinginan mereka untuk mendapat mitra politik dari cabinet digagalkan oleh kyai langitan. Keterang ini disampaikan oleh penasehatnya yang jadi orang penting di Indonesia.
3 Sang pemimpim LSM / politisi dari luar negeri marah dan melanjutkan usahanya dengan melibatkan orang yang lebih banyak.
4 Yang dituju adalah orang –orang yang giat / aktif dalam pemerintahan.


9 Madeg ing nagari Gyanti Pura, Prabu Darma Muka, mios ing pandapi, ingadep Patih Trimuka twin para punggawa pepak**1. Ginem ; sang nata andangu denira angrakit kalangan ing alun-alun sampun mirantos**2. Patih Trimuka atur uninga bilih Ratu Srawanti Pura Prabu Citra Muka sawadyanira dateng sampun masanggrahan**3. Wonten ing alun-alun sang nata lajeng dawuh dateng Patih Trimuka kinen ndawuhi ingkang putra Didya Wahmuka twin Arimuka, kinen ndawuhi medal ing jawi. Patih matur sendika, lajeng sowan mring Kadipaten Sawang-sawangan.


Terjemah
1 Sekarang membahas masalah sekumpulan orang yang aktif dipemerintahan (gyanti pura). Pemimpin perkumpulan ini terkenal sebagai orang yang baik (darma muka).
2 Mereka semua sudah siap dalam acara musyawarah yang mungkin akan terjadi dengan alot.
3 Semua anggotanya sudah didatangkan.


10 Madeg ing Kadipaten Didya Wahmuka lenggah twin kang rayi Didya Arimuka**1. Kasaru sowanipun Patih Trimuka, wus mangarsa, dinangu matur, ingutus ingkang rama Prabu paring uninga, bilih Ratu Srawanti Pura sampun dateng masanggrahan wonten ing alun-alun dinawuhan medalli**2. Didya Wahmuka lajeng medal ing jawi, dumugi ing alun-alun didya Wahmuka twin Arimuka, uninga Prabu Citra Muka sawadyanira sampun masanggrahan lajeng bramantya, prang rame, gentos kalindih. Danguning prang Prabu Citra Muka kalimpe cinepeng sinabetaken ing siti mboten saged obah**3. Para wadyanira sami ngebyuk sadaya, jinemparing kabuncang ing Maruta. Didya Wahmuka twin didya Arimuka lajeng sowan mring kang rama Prabu. Didya Wahmuka twin Arimuka dinangu matur, bilih mengsah Srawanti Pura sampun kawon. Kasaru datengipun Raden Dewa Brata, matur sedya malebet sayembara**4. Didya Wahmuka twin Arimuka medal ing jawi. Dumugi alun-alun lajeng prang rame, gentos kalindih. Danguning prang, Raden Dewa Brata ginetak kabur, kassaran, Semar matur mring Raden Dewa Brata ingaturan njemparing, dederrira kinanthillan raning teter, twin iris-irisan kunir**5. Raden Dewa Brata lajeng anglepassi sanjata. Ditya Wahmuka twin Ari Muka kenging, ditya Wahmuka dadya kawah, Arimuka dados ari-ari**6, Bibarran.


Terjemah
1 Pendukung orang yang giat dipemerintahan telah siap untuk musyawarah / debat yang akan berlangsung alot.
2 Acara musyawarah dilaksanakan.
3 Pimpinan LSM / pilitisi dari luar negeri yang mempunyai niat jelek dapat digagalkan.
4 LSM / politisi dari luar negeri telah ditolak. Sekarang ganti kyai-kyai langitan ikut maju, mencalonkan diri untuk jadi mitra politik.
5 Semula keinginan kyai langitan ditolak. Kemudian ada nasehat dari keamiran agar kalau berusaha bersungguh-sungguh. Nasehat dari keamiran dipraktekkan sampai dalam pertemuan itu dadanya gemetar dan wajah pucat.
6 orang-orang yang ngeyel menolak keterlibatan kyai langitan itu berasal dari para anggota musyawarah.


11 Madeg sang Prabu Darma Muka, lenggah ing ngadep Patih Trimuka, twin para punggawa pepak**1. Sang nata uninga manawi kang putra kakalih samya babar dadya kawah twin ari-ari**2. Raden Dewa Brata tinimbalan sampun mangarsa. Ingandikan sang Prabu, lajeng dinaupaken kaliyan kang putra Dewi Ambika, pandongan**3, Dewi Ambika binekta mring papreman lajeng sare**4. Raden Dewa Brata medal lenggah ingadep kang rayi Dewi Ambiki twin Dewi Ambaini**5. Ingandikan kang rayi kakalih lajeng kinen malebet cupu manik, Raden Dewa Brata kundur, ingkang garwa maksih sare lajeng katilar pangkat kedereaken parepattigo**6. Dewi Ambika wungu sare mulat kanan kering, kang garwa tan wonten lajeng anusul**7. Lampahira Dewa Brata dumugi ing wana katututtan ingkang garwa Dewi Ambika Raden Dewa Brata kandeg**8. Dewi Ambika arsa tumut Raden Dewa Brata datan pareng, kinen wangsul kewala, Dewi Ambika meksa lajeng dipun agar-agari jemparing**9. Dangu-dangu jemparing mrucut kenging Dewi Ambika pejah**10. Kuwandanira rinungkebban musna**11. Ing ngantariksa wonten swara; E..e..e., Dewa Brata, utang iku bakal nyaur, mula sing ngati-ati, pamalesku besok ing prang Brata Yuda, ana putri prajurit saka ing pancala Reja, aku nitis ana ing kono**12. Raden Dewa Brata lajeng lampahira “.

Kamus
Cupu Manik
Cupu = japa, doa, wasiat, nasehat
Manik = berbagai macam
#Berbagai macam nasehat / wejangan


Terjemah
1 Pimpinan orang yang giat / aktif dalam pemerintahan sedang berkumpul dengan para anggotanya.
2 Semua anggota siding kini telah kalah / setuju.
# Orang yang ngeyel dalam pewayangan digambarkan sedang bertarung tapi setelah setuju digambarkan telah kalah.
3 Akhirnya kyai langitan kini dinyatakan jadi mitra politik anggota kabinet yang sangat aktif dipemerintahan.
4 Salah satu anggota kabinet ada yang sementara waktu didiamkan dulu / ada kegiatan tidak diajak.
# Perjanjian semula jadi mitra politik kenyataanya ada yang sengaja ditinggalkan. Semacan ada tanda-tanda sengaja mengingkari janji.
5 Sebagian anggota kabinet lainnya tetap diajak dalam kegiatan berpolitik.
# Kyai langitan pilih kasih terhadap mitra politik.
6 Angota cabinet yang diajak berpolitik diberi berbagai macam nasehat (malebet cupu manik), sedangkan yang lainya dibiarkan tidak diajak berbicara.
7 Anggota cabinet yang ditinggalkan / dibiarkan kemudian menyusul / minta dilibatkan.
8 Setelah kyai langitan mengalami permasalahan yang pelik, saat itu anggota kabinet yang ditinggalkan meminta dirinya dilibatkan. Kyai langitan sementara waktu terdiam.
9 Anggota kabinet yang ditinggalkan meminta dilibatkan sedangkan kyai langitan tetap ngotot supaya tidak usah turut campur (wangsul kewala). Kemudian kyai langitan memberikan ucapan yang menyakitkan (jemparing).
# Kyai langitan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Misalnya semacam,kalau tidak mau diatur dikeluarkan dari kemitraan. Karena ucapan-ucapan itu akhirnya mereka keluar.
10 Karena ucapan-ucapan yang menyakitkan itu akhirnya anggota cabinet yang tidak dilibatkan terus berhenti total (tidak jadi mitra politik lagi).
11 keadaan anggota cabinet yang dibiarkan itu memang menyedihkan. Tapi kemudian hilang begitu saja (tidak ada kabar beritanya). Tidak jadi berita besar.
12 Kemudian ada suara peringatan bagi Ulama-Ulama NU / Kyai langitan (Dewa Brata) “E e e e Kyai Langitan, hutang itu harus mengembalikan (nyaur, makanya yang hati-hati. Pembalasanku besok pada perang tanding perang dunia. Suatu saat nanti ada pasukan perang yang kurang terlatih (Putri Prajurit) yang selalu memperjuangkan Pancasila (Pancala) aku turut bersama dia”. Kyai langitan terus melanjutkan karier politik / dunia politik.
# Kejadiannya sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, sedangkan peringatan yang ditujukan kepada Kyai Langitan / Ulama-Ulama sepuh NU baru terjadi saat jangka ini dibaca.
# Menurut jangka, semua perbuatan manusia yang ada di dunia saat ini nanti dalam perang dunia ada pembalasannya, makanya yang hati-hati.


12 Madeg ing nagari Ngastina, Prabu Sentanu mios ing padapi, ingadep ingkang putra Raden Arya Citra Gada, Raden Arya Citra Sena twin Patih Jaya Prayitna, pepak para punggawa**1. Kasaru datengipun Raden Arya Dewa Brata, ingiring parepattiga, sampun mangarsa sarwi arawatwaspa**2. Dinangu matur purwa madya wasana, sarta angaturaken rayinipun Dewi Ambika nama Dewi Ambiki, kang nem Dewi Ambaini**3. Sang sareng pirsa saklangkung welas ing galih**4. Sang nata lajeng dawuh dinaupaken kaliyan kang putra Raden Arya Citra Gada twin Raden Arya Citra Sena**5, lajeng pondongan, wus binekta mring papreman, Raden Arya Dewa Brata matur mring rama Prabu Santanu, nyuwun pamit dateng nagari Talkanda**6 , rinillan lajeng bidallan.


Terjemah
1 Perkembangan keadaan di Nahdatul Ulama yang berhubungan dengan LSM / politisi dari AS, Inggris dll.
2 Perkembangan keadaan kyai Langitan terasa memprihatinkan.
3 Termasuk keadaan para anggota cabinet yang jadi mitra pilitiknya juga menyedihkan.
4 Setelah semuanya tahu, mereka merasakan keadaan yang menyedihkan.
5 Pimpinan Nahdatul ulama menyarankan agar mereka jadi mitra poilitik LSM dari luar negeri.
6 Mereka lalu berpasangan.
#Kyai Langitan itu senang berpolitik tapi tidak mau bergabung dengan partai-partai politik manapun, senang jadi orang yang berpengaruh dan tidak menjadi pengurus partai.
#Kesalahan-kesalahan Kyai Langitan / Ulama-Ulama NU di atas akan disampaikan kepada masyarakat sedunia seiring dengan dibacanya jangka ini. semenjak jangka ini dibaca, Kyai Langitan jadi sering membicarakan tentang LDII dan di dalam hatinya ada rasa saakit hati.


13 Madeg ing nagari Srawanti Pura, Prabu Citra Muka, mios ingadap Patih Trimuka twin para punggawa pepak**1. Ginem ; sang Prabu miyarsa warta bilih putri ing Gyanti Pura sampun kaboyong dateng ing Ngastina**2. Sang nata lajeng dawuh kinen sami siyaga. Sang Prabu arsa lumurug maring Praja Ngastina**3, sampun samapta balanira.


Terjemah
1 Sekarang membahas LSM / politisi asing yang sering datag ke Indonesia. Yang pemimpin dan wakil-wakilnya adalah orang-orang yang terpandang dan terkenal.
# Sepertinya yang dimaksud adalah LSM / politisi dari AS dan Inggris.
2 Begitu LSM / politisi asing ( AS dan Inggris ) tahu kalau orang yang diidamkan akan jadi mitranya sudah punya mitra.
3 Mereka berusaha merebutnya.
# Meski keinginan untuk mendapatkan orang yang bisa menampung aspirasi politiknya sudah gagal, mereka tetap berusaha untuk mendapatkannya.

14 Madeg ing Suralaya, sang Guru lenggah ing Marcukandha madhep sang Narada twin para Dewa, Sang Hyang Brama, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Panyarikan, Sang Hyang Bayu**1, ginem ; Sang Hyang Guru dawuh dateng Sang Hyang Narada kadawuhan tumurun maring Ngarcapada, anyendal wayang Raden Arya Citra Gada twin Raden Arya Citra Sena, karsaning sang Guru kangge jangkeping Dewa**2. Sang Narada lanjut mesat maring Ngarcapada anjujug kadhaton ing Ngastina, bibarran.



Terjemah
1 Di PBB sedang ada musyawarah.
2 Yang dibahas masalah rencana untuk memanfaatkan LSM asing dari AS dan Inggris yang sedang berada di Indonesia. Akan dimanfaatkan untuk melaksanakan tugas-tugas / menjadi duta PBB (jangkeping dewa).
#Apabila pernah ada LSM dari Inggris dan AS yang pernah menjadi Duta PBB dan jadi perhatian, waktu itu BJ. Habibie masih jadi anggota Kabinet, itulah yang dimaksud dengan Citra Sena dan Citra Gada.


15 Madeg ing nagari Ngastina, Prabu Santanu mios ingadep Patih Jaya Prayitna twin para Punggawa ingkang rinembag sakesahipun ingkang putra Raden Arya Dewa Brata, utawi anggalih kang putra dennira pangantennan**1.
Ing kadhaton Raden Arya Citra Gada twin kang rayi Citra Sena sami eca anggenira sare, kasaru datengipun sang Narada, uninga samya sare sedaya**2. Raden Arya Citra Gada twin Raden Arya Citra Sena lajeng binekta mring Kahyangan**3. Para garwa sami kaget, uninga ing garwa binekta sang Narada, samya lumajeng matur ing rama**4. Prabu Santanu dupi uninga lajeng klenger**5. Sawungunipun sang Prabu lajeng dateng Talkandha, nedya Ambegawan, Raden Dewa Brata lajeng utusan parepattiga nimbali kang rayi Bagawan Abiyasa. Tan dangu Begawan Abiyasa dateng mangarsa, karsanira kang raka Raden Arya Dewa Brata sang Abiyasa pinasrahan karaton Ngastina twin putri kalih wau kagarwa**6. Ingkang ibu Dewi Durgandini kantun mungging kadhaton momong para putra**7. Raden Arya Dewa Brata ambegawan nedya nusul kang rama Prabu Santanu**8. Begawan Abiyasa matur sandika**9. Kasaru geger ing jawi, datengipun parang muka saking Srawanti Pura, Prabu Citra Muka sawadya balanira dadamel reresah**10. Begawan Abiyasa mios ing jawi. Uninga Prabu Citra Muka sawadya balanira damel reresah angobongi paseban lajeng jinemparing Maruta, Prabu Citra Muka sawadyanira babuncang ing Maruta sirna sadaya**11. Begawan Abiyasa lajeng lenggah ing pandapi, ing ngadep Patih Jaya Prayitna twin para punggawa, samya mangun bajana andra wina**12.


Terjemah
1 Pimpinan Nahdatul Ulama sedang membahas masalah kyai langitan yang sedang menjalin kemitraan dengan anggota kabinet.
2 LSM / politisi asing yang sudah sepakat menjalin kemitraan dengan anggota kabinet.
3 LSM ini mendapat panggilan dari PBB.
4 Anggota cabinet terkejut kalau calon mitranya mendapat panggilan / tugas dari PBB. Dia segera membahas masalah ini dengan pimpinan Nahdatul ulama.
5 Pimpinan NU terkejut tidak bisa apa-apa.
6
7
8 Generasi terakhir kyai langitan memutuskan tidak terjun kedunia politik. Dia memilih jadi kyai yang mengajarkan agama saja. Tidak menjalin kemitraan dengan golongan manapun.
9 Kyai dari LDII menyatakan kesanggupannya.
10 Tak lam kemudian ada LSM / politisi asing yang dating keIndonesia dan membuat keresahan / permasalahan.
11 LSM / politisi luar negeri cukup dihadapi dengan omongan, mereka semua pergi.
12 Semenjak saat itu, anggota kabinet yang diterlantarkan kyai langitan bermitra dengan ulama LDII.

Ini keterangan dari pewayangan. Suatu saat NU pernah dalam rapat membahas Ulama-Ulama NU yang tidak melanjutkan kemitraan politiknya / kembali kekhittah.
#Coba diteliti, pernahkan ada rapat tentang cerita-cerita di atas?
# Kurang lebih th. 1995 ada kabar, BJ. Habibie adalah Pejabat Negara yang mempunyai rasa simpati yang besar terhadap LDII. Saya tidak tahu keterangan detailnya bagaimana.

Waspada :
“Utang iku bakal nyaur, mulo sing ati-ati”
Berutang itu pasti mengembalikan, makanya yang hati-hati
Semoga keterangan saya bermanfaat, Amin.

JP – 5 XA Dana Amanat
[INDONESIA-L] DETIK - Heboh Harta T
From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Jan 04 1999 - 16:20:00 EST

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jan 4 20:18:50 1999
Date: Mon, 4 Jan 1999 18:19:34 -0700 (MST)
Message-Id: <199901050119.SAA16100@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] DETIK - Heboh Harta Triliunan Rupiah Marak Lagi
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.detik.com/berita/199901/990104-1630.html
Senin, 4 Januari 1999 [Peta Situs..]

Heboh Harta Triliunan Rupiah Marak Lagi

detikcom, Jakarta - Heboh harta karun bernilai triliunan rupiah
masih menyeruak di tengah krisis yang melanda Indonesia. Bahkan
seorang wanita bergelar Raden Ayu menyempatkan diri menggelar jumpa
pers di Excutive Club Hotel Hilton Jakarta, Senin (4/01/1999)
prihal harta karun yang jumlahnya amat menggiurkan itu.

Adalah R. Ay. Lilik Sudarti yang menggelar jumpa pers itu. Menurut
wanita asal Yogyakarta itu, harta milik leluhur bangsa yang
merupakan hibah dari sekitar 127 kerajaan di Nusantara tersimpan
pada 21 top prime bank yang ada di dunia. Harta tersebut
diperkirakan jumlahnya mencapai 65 persen dari cash colleteral
dunia. Pada tahap awal direncanakan akan dicairkan sebesar 250
miliar dolar AS. Angka ini kata dia, baru merupakan sebagian kecil
dari kekayaan tersebut.

Dikatakan Lilik, dirinya pada tanggal 22 April 1998 sudah
memperoleh surat tugas dari mantan presiden Soeharto. Surat tugas
bernomor B-297/Pres/4/1998 itu menugaskan dirinya untuk melakukan
"Upaya-upaya guna memperoleh kejelasan mengenai keberadaan dan
status dana atau harta kekayaan yang berada di dalam negeri dan di
luar negeri, serta kemungkinan penyelesaiannya bagi kepentingan
pembangunan, Bangsa dan Negara Republik Indonesia".

Disebutkan Lilik, dirinya sudah berusaha menghubungi presiden B.J.
Habibie sejak Mei 1998 hinggga November 1998. Namun hingga saat ini
Habibie belum memberikan tanggapan. "Sesungguhnya tanggapan itulah
yang diperlukan saat ini,"ungkap Lilik. Menurut Lilik jika presiden
B.J. Habibie memberikan tanggapan, maka dana tersebut dapat segera
ditransfer kembali ke Tanah Air. "Dana tersebut cukup untuk
menyelamatkan dan mensejahterakan rakyat yang saat ini menderita
akibat kemelut ekonomi nasional,"ujar Lilik lagi.

Dalam pengakuannya, R. Ay. Lilik Sudarti menyatakan bahwa dirinya
lahir di Yogyakarta pada tanggal 16 Seprember 1956. Wanita berusia
42 tahun ini lahir dari pasangan R. Soekarman Tjipto Prawiro dan R.
Ay. Sudariyah. Lilik sempat bekerja pada suatu perusahaan
kontraktor setelah sebelumnya mengajar di salah satu SMA di Jakarta
setamat kuliah. Sejak tahun 1993, Lilik mengaku melakukan
perjalanan ke beberapa negara: Swiss, Belanda, Perancis, Italia,
Jerman, Belgia, Inggris, Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong,
Taiwan, Jepang, Kanada dan Amerika Serikat. Perjalanan ini
dilakukan untuk mempelajari kebenaran harta kekayaan yang
dititipkan pinisepuh bangsa.

Lilik mengaku mendapatkan amanat pada Juni 1993. Amanat tersebut
berasal dari pinisepuh bangsa berupa beberapa surat kepemilikan
bangsa. Setelah melakukan pengecekan selama dua tahun, Lilik
menyebutkan bahwa surat-surat tersebut "valid, genuine, and
authentic".

Jika pengakuan Lilik benar, jumlah 250 miliar dolar bukanlah jumlah
yang kecil. Seperti yang juga dikatakan Lilik, harta tersebut akan
sangat berguna untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari krisis
ekonomi. Tapi apa yang benar?

JP – 5 XB Malari
Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari)
Malari
Peristiwa Malari di Senen Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara.

Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama.

Moertopo dan Peristiwa Malari
Dalam peristiwa Malari Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari [1].

Catatan kaki
Pernyataan ini diliput di situs web Swaramuslim [1]
http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Malari



Mengenang Malari 15 Januari 1974
Oleh H.Rosihan Anwar
HARI ini tanggal 15 Januari, 32 tahun yang silam, terjadi Peristiwa Malari (Malapetaka Januari) yang dilukiskan oleh sejarawan Australia M.C. Ricklefs sebagai "salah satu huru-hara paling buruk di ibu kota sejak jatuhnya Soekarno".

Peristiwa yang dipicu oleh kunjungan resmi Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, didahului oleh aksi demonstrasi mahasiswa terhadap dominasi ekonomi Jepang di negeri ini dan kecaman-kecaman ke alamat Asisten Pribadi (Aspri) Ali Murtopo dan Sudjono Humardani, menimbulkan korban 11 orang tewas, 200 luka berat dan lebih dari 800 orang ditangkap oleh Kopkamtib (Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban). Sebanyak 800 mobil, terutama buatan Jepang, 100 gedung dan rumah dibakar. Toko-toko yang menjual barang made in Japan dijarah.

Pasar Senen dibakar oleh gerombolan preman yang dipimpin oleh kaki tangan Ali Murtopo dalam upaya membendung aksi demo mahasiswa. Tokoh pemimpin mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hariman Siregar dan dari Fakultas Ekonomi Sjahrir ditangkap, kemudian dihukum penjara. Begitu juga Prof. Sarbini Sumawinata dari UI dan Soebadio Sastrosatomo pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibubarkan oleh Presiden Soekarno tahun 1960 ditangkap, kemudian menyusul Pemred Indonesia Raya Mochtar Lubis.

Sejumlah surat kabar dilarang terbit buat selama-lamanya yaitu Abadi, Harian Kami, Indonesia Raya, Nusantara, dan Pedoman. Mendadak sontak posisi saya berubah dari pemimpin redaksi Pedoman menjadi penganggur. Saya tidak ditangkap seperti Mochtar Lubis, mungkin karena tahun 1973 saya bersama B.M. Diah, Jakob Oetama menjadi penerima Bintang Mahaputera dari Presiden Soeharto.

Pemerintah mengambil tindakan keras. Tanggal 17 Januari kerusuhan dipadamkan. Buat pertama kali alih-alih mengatakan bahwa kaum komunis (sisa-sisa PKI) yang bertanggung jawab atas huru-hara, pemerintah menyalahkan bekas PSI dan Masyumi sebagai dalang kerusuhan. Menjadikan PSI sebagai kambing hitam segala kesusahan adalah pekerjaan Ali Murtopo. Pada waktu itu hubungan saya dengan Ali Murtopo normal dan zakelijk (lugas). Tapi kalau dia datang pribadi ke rumah saya untuk berdiskusi saya perhatikan dalam arus pikirannya betapa pada hematnya PSI adalah the bad guy, bahkan the villain, artinya "orang jelek dan bandit" dalam perkembangan lakon.

Ini terjadi sebelum pecah Malari. Pada satu saat dalam percakapan saya interupsi "Pak Ali bicara tentang keburukan PSI. Apa Pak Ali lupa saya ini kan juga orang PSI?" Serta merta dijawabnya dengan berkilah: "Oh ya, tapi Pak Rosihan sudah kami evaluasi dan kami anggap bukan PSI". Dalam hati saya berpikir, ini contoh ngomong seenaknya, lidah tak bertulang.

Sebelum Malari, tatkala suasana politik tegang, mahasiswa mengancam akan turun ke jalan. Di Yogyakarta saya berjumpa dengan Hariman Siregar. Waktu bercakap-cakap saya kasih nasihat, supaya Hariman berhati-hati dengan para jenderal seperti Sumitro dan Ali Murtopo. Mereka itu sama saja. "Nanti kau dimakan oleh mereka yang sedang bentrokan".

Entah kenapa Antara menyiarkan keterangan tadi yang benarnya saya berikan kepada Hariman secara confidential, tidak untuk diumumkan kepada publik. Lalu tersiarlah berita mengenai konflik antara Jenderal Sumitro (Pangkopkamtib) dengan Mayjen Ali Murtopo (Aspri Presiden). Ketika Hariman Siregar dibawa ke sidang pengadilan negeri dalam berkas perkaranya tercantum berita Antara tadi sebagai ilustrasi pemanasan isu konflik intern tentara. Akan tetapi pengacara pembela Hariman yang pernah jadi pemred Abadi Suardi Tasrif mengatakan bahwa statement saya di Yogya dianggap tidak relevan dan karena itu tidak perlu didalami lebih jauh.

Bertahun-tahun kemudian waktu menghadiri tahlilan memperingati meninggalnya Brigjen Sunardi (Sekjen PWI) saya berjumpa dengan Sumitro yang sudah diberhentikan sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soeharto. Sumitro curhat dan menegaskan bahwa tidak ada bentrokan antara Sumitro dengan Ali Murtopo, sebagaimana saya katakan di Yogya. "Mana mungkin Pak Rosihan, saya ini jenderal empat bintang, sedangkan Ali berbintang dua. Dia turut perintah saya. Dan tidak ada konflik di antara kami berdua." Sumitro bercerita panjang lebar dan akhirnya berkata "Sudah lama saya ingin menyampaikannya kepada Pak Rosihan, dan kini saya puas".

Benarkah tidak ada konflik? Versi Ali Murtopo lain pula. Dia ceritakan kepada saya bahwa Sumitro dan dia dipanggil oleh Pak Harto di Jalan Cendana. Mereka membicarakan situasi. Selesai pertemuan Ali meminta pertanggungjawaban dan malah sampai menantang Sumitro berduel dengan senjata pistol untuk menyelesaikan perkara. Sumitro menolak. Omongnya saja keras, tapi hatinya kecil, ujar Ali.

Mana yang benar dari cerita tadi saya tidak bisa mengecek sampai sekarang. Seperti juga saya tidak bica mengecek keterangan seorang jenderal bahwa ketika demo mahasiswa sedang memuncak, situasi seperti tak bisa dikendalikan, maka Pak Harto di istana sendirian tampaknya kebengong-bengongan. Begitu pengalaman saya sekitar peristiwa Malari. Tanggal 17 Januari pagi hari dengan memakai helikopter PM Tanaka diterbangkan dari istana ke bandar udara untuk balik ke Jepang. Soeharto mengadakan rapat. Diputuskan Sumitro diberhentikan sebagai Pangkopkamtib, Ali Murtopo tidak lagi jadi Aspri, begitu juga Sudjono Humardani, para jenderal yang dekat dengan Sumitro seperti Sutopo Yuwono, Kharis Suhud, Sayidiman diberi kedudukan lain. Katakanlah juga tidak ada konflik intern di kalangan tentara? (PR)

Penulis, wartawan senior Indonesia.

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah
KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal "Peristiwa Malari", tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Ada analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo). Kedua kasus ini, meminjam ungkapan Chalmers Johnson (Blowback, 2000), dapat disebut permainan "jenderal kalajengking" (scorpion general).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono "didubeskan", diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria "pernah jadi ajudan Presiden". Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental.

Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Malari sebagai wacana
Dalam buku Otobiografi Soeharto (terbit tahun 1989), kasus Malari 1974 dilewatkan begitu saja, tidak disinggung. Padahal, mengenai "petrus" (penembakan misterius), Soeharto cukup berterus terang di situ.

Dalam Memori Jenderal Yoga (1990), peristiwa itu digambarkan sebagai klimaks kegiatan mahasiswa yang telah berlangsung sejak 1973. Yoga Sugama ada di New York saat kerusuhan 15 Januari 1974. Lima hari setelah itu ia dipanggil ke Jakarta, menggantikan Soetopo Juwono menjadi Kepala BAKIN.

Menurut Yoga, ceramah dan demonstrasi di kampus-kampus mematangkan situasi, bermuara pada penentangan kebijakan ekonomi pemerintah. Awalnya, diskusi di UI Jakarta (13-16/8/1973) dengan pembicara Subadio Sastrosatomo, Sjafrudin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan TB Simatupang. Disusul peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan "Petisi 24 Oktober".

Kedatangan Ketua IGGI JP Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan.

Dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani "membina" orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Pola pemanfaatan unsur Islam radikal ini sering berulang pada era Orde Baru.

Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono (Heru Cahyono, 1992: 166).

Sebaliknya, "dokumen Ramadi" mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, "Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh". Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam "dokumen" itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.

Keterangan Soemitro dan Ali Moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, Soemitro atau Ali Moertopo?

Kita melihat pelaku kerusuhan di lapangan dibekuk aparat, tetapi siapa aktor intelektualnya tidak pernah terungkap. Ramadi ditangkap dan meninggal secara misterius dalam status tahanan.

Sebagian sejarah Orde Baru, termasuk peristiwa Malari 1974, memang masih gelap (Kom)

Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris.

sumber : Tempophoto
Lihat Galery : Peristiwa Malari





JP – 4 XA G 30 S PKI
Tragedi G30S/PKI
[Versi Ratnasari Dewi Soekarno]

Ditulis pada September 18, 2007 oleh apit
RATNASARI Dewi Soekarno memperlihatkan dokumen yang dikirim ke Amerika Serikat dalam jumpa persnya di Jakarta, kemarin. Dokumen tersebut menyebutkan tentang adanya percobaan kudeta terhadap Presiden pertama RI Soekarno.**1 (DUDI SUGANDI/”PR”)
MISTERI Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) kini mulai terungkap. Ini setidaknya menurut versi Ratna Sari Dewi, istri almarhum Presiden Soekarno, yang menyingkapkannya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/10). Dengan tutur bahasa Indonesia yang kurang lancar, Dewi memaparkan secara runtut kejadian sekitar tragedi berdarah yang membenamkan bangsa Indonesia dalam kepedihan berkepanjangan itu. “G30S/PKI bukanlah suatu kup atau kudeta. Kudeta terjadi justru tanggal 11 Maret dengan Surat Perintah 11 Maret yang menghebohkan itu,” kata Dewi dalam konferensi pers di kediamannya yang asri di Jl. Widya Chandra IX No. 10. Jumpa pers ini dihadiri ratusan wartawan dari dalam dan luar negeri. Maka meluncurlah cerita dari bibir mungil wanita yang masih cantik di usianya yang mendekati kepala enam ini. Dengan sangat ekspresif, ia bahkan memperagakan saat-saat akhir Bung Karno (BK) ketika dibawa dari Wisma Yaso ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). “Sebelum 30 September, Bapak (Bung Karno-BK, red) memanggil Jenderal A. Yani untuk menanyakan tentang adanya Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta dan membunuhnya,” kata Dewi mengutip ucapan suaminya. Saat itu, Pak Yani menyatakan bahwa dirinya sudah tahu tentang hal itu, dan nama-nama para jenderal itu sudah ada di tangannya. “Jadi Bapak tidak usah khawatir,” kata A. Yani.**2 Saat itu, sebetulnya tidak ada yang memberitahu anggota pasukan Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden, tentang rencana makar terhadap panglima revolusi ini. Entah mengapa, pentolan Tjakra seperti Letkol Untung, Kolonel Latief dan Supardjo mengetahuinya. “Mungkin ada yang memberi tahu mereka,” ucap Dewi mengutarakan prediksinya. Sebagai perwira muda yang sangat loyal kepada BK, didorong kekhawatiran akan keselamatan BK, pasukan Tjakra ini bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya. Sebab kalau lapor kepada atasannya, diperlukan bukti-bukti padahal mereka hanya punya waktu sekitar empat hari lagi, karena kudeta akan dilakukan tanggal 5 Oktober 1965 saat ulang tahun ABRI. “Lebih baik kami interogasi saja jenderal-jenderal itu,” kata Dewi tentang niat para perwira muda di kesatuan Tjakra ini. Hal ini sebenarnya tidak direncanakan dengan baik, karena para perwira muda ini didorong oleh suasana emosi dan darah mudanya yang memang panas. Guna menghindari kemungkinan yang lebih buruk, Kol. Latief menemui Pak Harto di RSPAD dan membicarakan tentang rencana dewan jenderal. Juga diungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan BK dan anggotanya serta rencana menginterogasi anggota dewan jenderal. “Kalau ada apa-apa, Pak Harto bisa mem-back up,” kata Dewi. Namun permintaan itu ditanggapi dingin oleh Pak Harto yang saat itu menjabat Pangkostrad. Sebetulnya, kalau mau Pak Harto bisa mencegah kejadian ini. Namun karena tidak hirau, Pak Harto membiarkan pasukan Tjakra bertindak. “Tjakra bermaksud menyelamatkan BK. Masudnya baik tapi caranya kasar. Saya bisa mengerti karena darah mudanya,” tutur Dewi. Untuk menginterogasi para jenderal itu, Letkol Untung tak mungkin menyuruh prajurit muda dengan pangkat rendah. Mereka ini hanya bertugas menjemput para jenderal untuk diinterogasi. “Para prajurit ini tak mungkin berani memanggil Pak Yani yang jenderal untuk menghadap. Karena itu, mereka meminta para jenderal untuk menghadap BK dan tidak ada sama sekali rencana untuk membunuh mereka,” jelas Dewi yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia lewat buku yang menampilkan seluruh tubuhnya, Madame D’syuga. Namun karena mereka masih muda, kerap kali keluar kata kasar yang tidak layak ditujukan kepada jenderal sehingga mereka marah. Contohnya Jenderal Yani yang menampar seorang prajurit dan akhirnya ditembak di tempat, sebagaimana terungkap dalam film G30S/PKI arahan Arifin C. Noer. “Jadi gerakan itu bukanlah orang PKI melainkan orang-orang militer. Ini merupakan insiden yang sangat bodoh, idiot, cruel dan harus dicela,” kata mantan geisha di Jepang ini. Menurut Dewi, usai gerakan ini Soeharto langsung menyatakan bahwa pelakunya adalah PKI. Itu diutarakan lewat RRI sehingga membentuk opini masyarakat tentang jahatnya PKI. Saat HUT TNI, Soeharto telah berhasil menguasai TNI. “Mengapa rencana kudeta itu tanggal 5 Oktober? Karena saat itu semua maklum bila tentara keluar barak menuju istana untuk memperlihatkan keterampilannya di hadapan presiden. Saat itu ada show of tank. Ini persis dilakuan CIA ketika menjatuhkan Presiden Mesir Anwar Sadat yang meninggal saat defile angkatan perangnya,” kata Dewi yang saat konferensi pers mengenakan batik tulis ‘lusuh’ warna cokelat muda ini.
**

Bukti pertama adalah dokumen tentang pertemuan salah seorang jenderal dengan dubes AS waktu itu untuk membicarakan kudeta tanggal 5 Oktober 1965.
Dokumen kedua adalah dokumen Gillchrist, orang kedua di Kedubes AS yang menyebutkan tentang rencana Marshal Green menjadi Dubes AS di Indonesia. Orang terakhir ini adalah pakar kudeta CIA yang terlibat dalam kudeta di Korea dan Hongkong. Saat itu sebetulnya BK sudah diingatkan tentang kemungkinan adanya rencana CIA di Indonesia sehubungan dengan kedatangan Green ini. “Tapi kalau saya tolak, berarti saya takut pada AS,” kata BK, seperti dikutip Dewi, tentang alasannya menerima Green.
Dokumen terakhir adalah surat dari BK untuk Dewi yang menyatakan penderitaannya karena tidak boleh dijenguk anak dan istrinya. Juga tentang kondisi terakhir BK.
“Saat saya datang, kondisi Bapak sangat mengenaskan. Keesokan harinya Bapak meninggal. Ketika saya konfirmasikan kepada dokter di AS dan Prancis, ternyata terungkap bahwa ada indikasi Bapak dibunuh dengan cara diberi obat over dosis,” katanya .(Refa/”PR”)***


JP – 4 XB Dukungan Amerika Serikat terhadap Soeharto
Beranda | Keanggotaan | Informasi | Kontak
29 July 2008 | Login


Tokoh


Soeharto
Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto, atau Suharto (EYD), atau juga dikenal sebagai Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden Indonesia yang kedua setelah Soekarno. Ia berkuasa selama 31 tahun (21 Maret 1967 - 21 Mei 1998) dan menamakan eranya sendiri sebagai Orde Baru, untuk membedakan dengan era sebelumnya yang disebut sebagai Orde Lama.
Soeharto pertama naik ke kekuasaan pada tanggal 12 Maret 1967 sebagai Pejabat Sementara Presiden dan dipilih sebagai Presiden pada tanggal 21 Maret 1967 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Ia dipilih kembali menjadi Presiden RI oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
Kekuasaannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998, menyusul demo besar-besaran menuntut reformasi dan berakhirnya kekuasaan Orde Baru yang dinilai sebagai rezim otoritarian, ditandai dengan terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR RI oleh ribuan mahasiswa.

[ Biodata | Berita | Wawancara | Opini | Analisis | Resensi | Koleksi Tulisan ]
Biodata
Kelamin: Laki-laki
Tmp/Tgl Lahir: Kemusuk, Yogyakarta, 08 June 1921
Agama: Islam
Alamat Lengkap: Jl. Cendana No 8
Menteng
Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Indonesia
Istri: Suhartini (Tien)
Anak: • Sigit Harjojudanto
• Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)
• Bambang Trihatmodjo
• Siti Hediati Hariyadi (Titiek)
• Hutomo Mandala Putra (Tommy)
• Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
Riwayat Hidup
Latar belakang
Soeharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta. Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Selama Perang Dunia II, dia menjadi komandan batalion di dalam militer yang disponsori oleh Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air).
Setelah proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno pada 1945, pasukannya bentrok dengan Belanda yang sedang berupaya mendirikan kembali hukum kolonialisme. Soeharto dikenal luas dalam militer dengan serangan tiba-tibanya yang menguasai Yogyakarta pada 1 Maret 1949 (lihat Serangan Umum 1 Maret) hanya dalam satu hari. Namun gerakan ini cenderung ditafsirkan sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia terhadap pasukan Belanda. Penggagas sebenarnya dalam serangan ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai raja Yogyakarta, Gubernur Militer serta Menteri Pertahanan.
Di tahun berikutnya dia bekerja sebagai pejabat militer di Divisi Diponegoro Jawa Tengah. Pada 1959 dia dituduh terlibat kasus penyelundupan dan kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani. Namun atas saran Jendral Gatot Subroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Jawa Barat meskipun menurut koleganya di SESKOAD, Kolonel Hario Kecik yang akhirnya menjadi Pangdam Mulawarman, Soeharto mengalami konflik pribadi dengan Kolonel D.I. Panjaitan. Sebelumnya Letkol Soeharto menjadi komandan penumpasan pemberontakan di Makassar dibawah komando Kolonel Alex Kawilarang di mana Soeharto mengalami konflik pribadi dengan Kawilarang akibat keteledorannya sehingga huru-hara meletus kembali ketika Kawilarang melaporkan situasi Makassar yang dianggap aman kepada Presiden Soekarno di Jakarta.
Pada 1961 dia mencapai pangkat brigadir jendral dan memimpin Komando Mandala yang bertugas merebut Irian Barat. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H. Nasution. Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965.
Pada 1965, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, khususnya Angkatan Darat mengalami konflik internal, terutama akibat politik Nasakom pada saat itu sehingga digambarkan pecah menjadi dua faksi, satu sayap kiri dan satu lagi sayap kanan, dengan Soeharto berada di bagian sayap kanan. Hal terpenting yang diperoleh Soeharto dari operasi militer ini adalah perkenalannya dengan Kol. Laut Sudomo, Mayor Ali Murtopo, Kapten Benny Murdani yang kemudian tercatat sebagai orang-orang terpenting dan strategis di tubuh pemerintahannya kelak.
Naik ke kekuasaan
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Sutopo bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jendral. Pada peristiwa itu Jendral A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jendral Soeharto, meski menjadi sebuah pertanyaan apakah Soeharto ini terlibat atau tidak dalam peristiwa yang dikenal sebagai G-30-S itu. Beberapa sumber mengatakan, Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada "Hari ABRI", 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal.**1
Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Langkah yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu "tersangka komunis", kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar "operasi komunis" Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: "Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat." Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department's Bureau of Intelligence and Research di 1965: "Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya." Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.**2
Jendral Soeharto akhirnya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS pada tahun 1967, kemudian mendirikan apa yang disebut Orde Baru.**3
Beberapa pengamat politik baik dalam negeri maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.
Jendral Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen - Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut "musuh negara" dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda sampai 1990).
Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto.** Ketika Soeharto mengumjungi Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah "orang seperti kita" atau "orang golongan kita". **4
Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Pada 21 Maret dia resmi terpilih di masa lima tahun pertamanya sebagai Presiden. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.
Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasehat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai "mafia Berkeley". Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dipungkiri. Peran Sudjono Humardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.
Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Murtopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.
Meredam oposisi
Soeharto membangun dan memperluas konsep "Jalan Tengah"-nya Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan basis teoritis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini adalah peran militer di bidang politik yang permanen.
Sepak terjang Ali Murtopo dengan badan inteligennya mulai mengancam Soeharto. Persaingan antara Ali Moertopo dan Sumitro dipergunakan untuk menyingkirkan Ali. Namun Sumitro pun segera ditarik dari jabatannya dan kendali Kopkamtib dipegang langsung oleh Soeharto karena dianggap potensial mengancam. Beberapa bulan setelah peristiwa Malari sebanyak 12 surat kabar ditutup dan ratusan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa ditangkap dan dipenjarakan.
Pada 1978 untuk mengeliminir gerakan mahasiswa maka segera diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini ditentang keras oleh banyak organisasi mahasiswa. Hubungan kegiatan mahasiswa dengan pihak kampus hanyalah kepada mereka yang diperbolehkan pemerintah lewat mekanisme kontrol dekanat dan rektorat.
Mulut pers pun dibungkam dengan lahirnya UU Pokok Pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan adanya restriksi atau peringatan mengenai isi pemberitaan ataupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi profesi buatan pemerintah yang diperbolehkan berdiri. Sehingga organisasi massa tak lebih dari wayang-wayang Orde Baru.
Pada tahun 1979-1980 muncul sekelompok purnawirawan perwira tinggi angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh sipil yang dikenal kritis, yang tergabung dalam Petisi 50, mengeluarkan serial selebaran yang mengeluhkan sikap politik pemerintah Orde Baru yang menjadikan Angkatan Darat sebagai pendukung kemenangan Golkar, serta menuntut adanya reformasi politik. Sebagai balasannya, pemerintah mencekal mereka. Kelompok ini pun gagal serta tak pernah mampu tampil lagi sebagai kelompok oposisi yang efektif terhadap pemerintahan Orde Baru.
Puncak Orde Baru
Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serikat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Berkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah "mayoritas tunggal" di mana GOLKAR dijadikan partai utama dan mengebirikan dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan PEMILU. Berbagai ketidakpuasan muncul, namun dapat diredam oleh sistem pada masa itu.
Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.
Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru
Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis.
Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.
Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.
Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan "electoral college". dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.
Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur Sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tidakan Fretilin yang menurutnya mengundang campur tangan Uni Soviet. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia. Pada 15 Juli 1976 Timor Timur menjadi provinsi Timor Timur sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999.


Soeharto dengan William Cohen
Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.
Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.
Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Di bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai "Peristiwa Kudatuli" (Kerusuhan Dua Tujuh Juli). **5
Soeharto turun takhta


Pengumuman pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998 melalui televisi.
Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30% dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia di tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF.
Mekipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap memastikan ia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan, tekanan politik dan militer, serta berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR RI, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie.
Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto

Membengkaknya jumlah parpol, menjadikan kehidupan politik;

Lebih demokratis

Partisipasi rakyat meningkat

Tidak ada perubahan

Rakyat semakin bingung

Tidak tahu


28 Jul 08 14:21
Kalla Belum Bisa Melenggang
28 Jul 08 13:58
Tanpa Gus Dur, PKB Terpuruk
28 Jul 08 13:58
KPU Harus Lebih Konsepsional
28 Jul 08 13:51
Formula Islah Masih Dibahas
28 Jul 08 13:50
Gus Dur terlalu sering membuat langkah politik yang membingungkan, bahkan kontroversial.
28 Jul 08 13:49
Didukung, Hukuman Penjara Terendah Koruptor 4 Tahun
28 Jul 08 13:47
Golkar Rp 120 Miliar, PPP Rp 100 Miliar
28 Jul 08 13:41
Budiman Sudjatmiko Diusulkan Caleg Jateng
28 Jul 08 13:37
Logistik Pilgub Mulai Ditarik
28 Jul 08 13:34
Thontowi Daftar Caleg DPRD Boyolali
28 Jul 08 13:29
Dari Hotel, Karaoke, hingga Perempuan Cantik
28 Jul 08 13:22
Ledakan Warnai Harlah PKB
28 Jul 08 13:19
Perubahan Jadwal Akan Turunkan Kredibilitas KPU
28 Jul 08 13:17
Harus Mayoritas Mutlak
28 Jul 08 13:14
Penyelesaian Kasus 27 Juli Kian Tak Menentu
28 Jul 08 13:08
Jangan Manipulasi Suara
[ Berita Lainnya ]
© 2007 IndoPolitik.com. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang. Saran dan komentar ke: info@indopolitik.com


JP – 7 XA Sejarah singkat LDII
Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://vbaitullah.or.id/index2.php?option=content&do_pdf=1&id=46.
G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
Untuk menautkan atau menandai situs ini, gunakan URL berikut: http://www.google.com/search?q=cache:CiLedMj8MP8J:vbaitullah.or.id/index2.php%3Foption%3Dcontent%26do_pdf%3D1%26id%3D46+madigol&hl=id&ct=clnk&cd=14&gl=id
Google tak ada kaitannya dengan pemilik/pembuat halaman ini, dan juga tak bertanggung jawab atas kandungan materi yang terdapat di dalamnya.
Kata kunci yang dipakai untuk penelusuran sudah distabilo madigol
Sssss


Page 1
Sejarah Singkat LDII
Al-Islam dan LPPI
Kontributor: Administrator
Friday, 07 February 2003
LDII, sebuah organisasi yang masih ada sampai saat ini. Untuk itu, keberadaannya yang berbahaya (sesat dan
menyesatkan) harus kita waspadai. Simak sejarah singkat mereka yang diambil dari buku "Bahaya Islam Jama'ah
LEMKARI LDII", oleh LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam). Semoga mereka yang berada di dalamnya dapat
sadar dan segera bertobat kepada Allah yang sangat luas pintu tobatnya dan bagi kita yang belum sempat terlibat, dapat
terhindar dari bahaya mereka ini, Amiin.
- ASAL MUNCULNYA LDII
Faham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama'ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa
Agung Republik Indonesia pada tahun 1971 (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971).
Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam Jama'ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh
Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan
Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972). Namun dengan adanya UU No. 8
tahun 1985, LEMKARI sebagai singkatan Lembaga Karyawan Islam sesuai MUBES II tahun 1981 ganti nama dengan
Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat juga LEMKARI (1981). Pengikut aliran tersebut pada pemilu 1971
mendukung GOLKAR**1, kemudian LEMKARI berafiliasi ke GOLKAR Dan kemudian berganti nama lagi sesuai keputusan
konggres/muktamar LEMKARI tahun 1990 dengan nama Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Perubahan nama
tersebut dengan maksud menghilangkan citra lama LEMKARI yang tidak baik di mata masyarakat. Disamping itu agar
tidak jumbuh dengan nama singkatan dari Lembaga Karatedo Indonesia. Kota atau daerah asal mula munculnya Islam
Jama'ah/Lemkari atau sekarang disebut LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia) adalah:
- Desa Burengan Banjaran, di tengah-tengah kota Kediri, Jawa Timur **2.
- Desa Gadingmangu, Kec. Perak, Kab. Jombang, Jawa Timur.
- Desa Pelem di tengah-tengah kota Kertosono, Kab. Nganjuk, Jawa Timur.
- TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN
- Sekitar tahun 1940-an sepulang Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) dari mukimnya selama 10 tahun di
Makkah, saat itulah masa awal dia menyampaikan ilmu hadits manqulnya, juga mengajarkan ilmu bela diri pencak silat
kanuragan serta qiroat. Selain itu juga ia biasa melakukan kawin cerai, terutama mengincar janda-janda kaya. Kebiasaan
itu benar-benar ia tekuni hingga ia mati (1982 M). Kebiasaan lainnya adalah mengkafir-kafirkan dan mencaci maki para
kiyai/ulama yang diluar aliran kelompoknya dengan cacian dan makian sumpah serapah yang keji dan kotor **3. Dia sering
menyebut-nyebut ulama yang kita kaum Suni muliakan yaitu Prof. Dr. Buya Hamka dan Imam Ghozali dengan sebutan
(maaf, pen) Prof. Dr. Buaya Hamqo dan Imam Gronzali. Juga dia sangat hobi membakar kitab-kitab kuning pegangan
para kiyai/ulama NU kebanyakan dengan membakarnya di depan para murid-murid dan pengikutnya.
- Masa membangun Asrama Pengajian Darul Hadits berikut pesantren-pesantrennya di Jombang, Kedir, dan di Jl.
Petojo Sabangan Jakarta sampai dengan masa Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) bertemu dan mendapat konsep
asal doktri imamah dan jama'ah (yaitu : Bai'at, Amir, Jama'ah, Taat) dari seorang Jama'atul Muslimin Hizbullah, yaitu
Wali al-Fatah, yang dibai'at pada tahun 1953 di Jakarta oleh para jama'ah termasuk sang Madigol sendiri. Pada waktu
itu Wali al-Fatah adalah kepala biro politik Kementrian Dalam Negeri RI (jaman Bung Karno).
- Masa pendalaman manqul Qur'an Hadits, tentang konsep Bai'at, Amir, Jama'ah dan Ta'at, itu sampai tahun 1960.
Yaitu ketika ratusan jama'ah pengajian Asrama manqul Qur'an Hadits di Desa Gadingmangu menangis meminta
Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol)mau dibai'at dan ditetapkan menjadi imam/amir mu'minin alirannya **4. Mereka
semuanya menyatakan sanggup taat dengan dikuatkan masing-masing berjabat tangan dengan Madigol sambil
mengucapkan Syahadat, shalawat dan kata-kata sakti ucapan bai'atnya masing-masing antara lain : "Sami'na wa
atho'na Mastatho 'na" sebagai pernyataan sumpah untuk tetap setia menetapi program 5 bab atau "Sistem 3 5 4."
Belakangan yang menjadi petugas utama untuk mendoktrin, menggiring dan menjebak sebanyak-banyaknya orang mau
berbai'at kepada dia adalah Bambang Irawan Hafiluddin yang sejak itu menjadi Antek Besar sang Madigol. Namun
Alhamdulillah Bambang Irawan Hafiluddin dengan petunjuk, taufik dari Allah SWT, kini telah keluar dari aliran ini dan
mengungkap rahasia LDII itu sendiri.
Vila Baitullah - Bogor Indonesia
http://vbaitullah.or.id
_PDF_POWERED
_PDF_GENERATED 4 December, 2007, 05:24

Page 2
- Masa bergabungnya si Bambang Irawan Hafiluddin (yang diikuti juga oleh Drs. Nur Hasyim, Raden Eddy Masiadi,
Notaris Mudiyomo dan Hasyim Rifa'i) **5 sampai dengan masa pembinaan aktif oleh mendiang Jenderal Soedjono
Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo berikut para perwira OPSUSnya yaitu masa pembinaan dengan naungan surat
sakti BAPILU SEKBER GOLKAR: SK No. KEP. 2707/BAPILO/SBK/1971 dan radiogram PANGKOPKAMTIB No. TR
105/KOPKAM/III/1971**6atau masa LEMKARI sampai dengan saat LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach.**7
- Masa LEMKARI diganti nama oleh Jenderal Rudini (Mendagri 1990/1991 menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah
Indonesia) **8 yaitu masa mabuk kemenangan, karena merasa berhasil Go-Internasional, masa sukses besar setelah
Madigol berhasil menembus Singapura, Malaysia, Saudi Arabia (bahkan kota suci Makkah) kemudian menembus
Amerika Serikat dan Eropa, bahkan sekarang Australia dengan siasat Taqiyyahnya: Fathonah, Bithonah, Budiluhur
Luhuringbudi, yang lebih-lebih tega hati dan canggih.
Vila Baitullah - Bogor Indonesia
http://vbaitullah.or.id
_PDF_POWERED
_PDF_GENERATED 4 December, 2007, 05:24


Tulisan yang saya garis bawahi ini ada dalam jangka pewayangan

1 Alamat pondok LDII di burengan, Banjaran, Kediri dalam pewayangan diceritakan bengawan silu gangga.
2 kebiasaan mencaci maki dalam pewayangan diceritakan sebagai negari Wiratha, Wana Gajah Aya.
3 Murid – murid KH. Nurhasan al – Ubaidah yang murtad dari jama’ah ( Bambang Irawan Hafiludin ), sewaktu masih jadi muridnya bernama Puthut Supalawa. Sejak mereka masih jadi murid KH. Nurhasan al- Ubaidah mereka sudah menyimpan rasa sakit hati. Setelah mereka murtad dari jama’ah merka mendapat julukan baru Raja Mala ( jagonya sipembuat masalah / pengacau / penghianat / perusak ).
4 Sedangkan murid – murid KH. Nurhasan al-Ubaidah yang lain, yang setelah murtad dari jama’ah tidak menyakiti warga LDII, dalam pewayangan diceritakan sebagai Rekatha Wati.
5 KH. Nurhasan al-Ubaidah dan murid-muridnya berafiliasi ke GOLKAR dalam pemilu 1971 dalam pewayangan diceritakan anengga kajeng sriputa.
6 Jenderal Soedjono Hoemardani dan Jenderal Ali Moertopo berikut para perwira OPSUSnya dalam pewayangan diceritakan sebagai Terbelo Sekti.
7 LEMKARI dibekukan oleh MUI Jawa Timur dibawah pimpinan KH. Misbach dalam pewayangan diceritakan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar